Optimis atau Pesimis

Optimis atau Pesimis?

Saya telah sampai pada pemahaman, bahwa optimis sama netralnya dengan pesimis. Keduanya bisa baik, bisa juga buruk. Yang membuatnya baik dan buruk adalah landasannya. Apa landasan saudara sehingga saudara menjadi optimis? Kalau landasan saudara sesuai kenyataan, atau asumsi yang masuk akal, adalah baik untuk bersikap optimis. Kalau landasan saudara adalah sesuatu yang tidak sesuai kenyataan, khayalan, atau tidak masuk akal, adalah berbahaya menjadi optimis. Begitu juga, apa landasan saudara sehingga saudara pesimis? Jika landasannya sesuatu yang sesuai kenyataan, atau asumsi yang masuk akal, wajar dan baik-baik saja kalau saudara pesimis. Tapi, jika landasan saudara adalah sesuatu yang tidak sesuai kenyataan, atau khayalan saja, adalah rugi dan buruk kalau saudara pesimis.

Berlebihan dalam optimisme, akan membuat saudara menjadi lengah dan telmi (telat mikir). Sementara berlebihan dalam pesimisme, akan membuat saudara menjadi putus asa.

Alat Detektor Gempa Buatan Indonesia, adakah?

Wilayah Indonesia sudah beberapa kali diguncang gempa. Tahun lalu kita sempat diguncang gempa di NTB dan Palu. Melihat begitu banyak korban jiwa yang ditimbulkan, saya berpikir bahwa mungkin sebuah sistem untuk mendeteksi gempa atau peringatan dini bisa membantu menyelamatkan nyawa banyak orang.

Sebetulnya Indonesia sudah punya sistem seperti itu. Indonesia sempat punya buoy untuk mendeteksi ketinggian air laut untuk mendeteksi tsunami. Sayangnya, belum setahun buoy itu dipasang, partnya sudah banyak yang hilang karena dicuri. Khususnya baterai dan modem. Sehingga hari ini, kita tidak punya lagi buoy detektor tsunami. Dan PVMBG menggunakan cara lain yaitu dengan mendirikan pos pemantau. Seperti pos pemantau aktifitas gunung api.

Kalau dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang yang sudah memiliki ribuan alat untuk mendeteksi tsunami, kita masih tertinggal jauh. Mereka sudah memiliki dan mengoperasikan ribuan alat untuk mendeteksi tsunami.

Sampai saat ini, belum ada ilmuwan yang dapat memprediksi kapan dan di mana akan terjadi gempa bumi, dan berapa besar skalanya. Cukup menjadi renungan, umat manusia yang sudah menempati planet bumi kira-kira sejak 200.000 tahun lalu belum mengenal planet bumi ini secara sempurna. Jangankan memprediksi gerakan lapisan perut bumi, untuk mengeksplorasi lautan pun baru sekitar 30% saja. Sisanya, tidak ada yang tahu bagaimana rupa lautan yang menutupi 70% planet bumi.

Memang sudah banyak yang mengajukan beberapa model gempa bumi. Tapi sejauh ini baru dapat memetakan di mana saja lokasi yang berpotensi menjadi episentrum gempa. Waktunya kapan, dan berapa besar, tidak ada yang tahu.

Maka, usaha yang paling masuk akal saat ini adalah mendeteksi seawal mungkin SETELAH terjadinya gempa bumi. BUKAN SEBELUM. Setelah getaran itu terdeteksi, maka selanjutnya dihitung berapa skalanya. Jika skalanya di atas 5.0 SR, maka segera trigger protokol evakuasi di seluruh radius yang terdampak saja. Bukan di tempat lain. Ini ide dasarnya.

Saya sudah bertanya ke teman-teman di PVMBG, alat tersebut masih diperlukan dan Indonesia butuh sebanyak mungkin. Dan selama ini kementrian ESDM masih impor dari luar negeri, khususnya Prancis. Mengapa belum ada alat buatan Indonesia yang digunakan oleh BMKG? Mengapa tidak ada orang Indonesia yang membuat alat tersebut? Jawabannya bisa ditebak, tidak ada anggaran khusus untuk riset soal itu.

Kalau kita menunggu kebijakan pemerintah, jangan-jangan upaya ini tidak akan pernah ada yang memulai.

Oleh sebab itu saya berinisiatif, bagaimana jika kita mulai saja untuk membuat prototipe alat pendeteksi gempa tersebut? Kita mulai dari yang paling sederhana, paling cupu, dan yang paling terjangkau biayanya. Jika berhasil alhamdulillah, jika gagal saya yakin ada orang lain yang akan memperbaiki dan melanjutkannya dengan prototip yang lebih baik. Jika plan A gagal, masih ada plan B. Jika plan B gagal, kita masih punya cadangan huruf abjad sampai Z bukan?

Saya sudah mengumpulkan beberapa parts seperti board, mikrokontroler, sensor, dan yang lainnya.

Bismillah.

PPBT 2019

Pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi 2018

Pendaftaran pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) bagi ‘Tenant’ tahun 2018 kembali di buka.

Batas pendaftaran bagi ‘Tenant’ PPBT ini sampai dengan tanggal 3 Oktober 2018.

Ayo, gunakan kesempatan ini untuk menunjukkan karya inovasi kamu di bidang teknologi.

Informasi selengkapnya, unduh panduan berikut ini: bit.ly/ppbt-2019-panduan

Read more at https://www.ristekdikti.go.id/pengumuman/pendaftaran-pendanaan-perusahaan-pemula-berbasis-teknologi-ppbt-2019/#QSRMlGrjFOllO1dU.99

Group Telegram PostgreSQL Indonesia

Sudah lama pakai Telegram dan bergabung dalam grup pemrograman lainnya, tapi saya lihat belum ada grup khusus PostgreSQL. Untuk itu saya membuat grup PostgreSQL Indonesia supaya bisa bertemu dan berkolaborasi dengan para praktisi database pada umumnya dan PostgreSQL pada khususnya.

Bagi anda yang ingin bergabung, silakan masuk ke https://t.me/postgresql_id

Mau Taat Pajak? Jangan Naif!

Pada tahun 2009, usaha saya mulai berkembang pesat dan secara keuangan sangat sehat. Mulai terbetik niat dalam hati ingin berkontribusi kepada negara yang saya cintai ini dalam bentuk membayar pajak. Supaya negara kita makin maju dan tidak selalu tergantung pada pinjaman luar negeri untuk pembiayaan negara.

Tahun 2010, saya mulai memperbaiki sistem keuangan perusahaan dan tahun berikutnya, tahun 2011 usaha saya mulai taat pajak dan berbadan hukum. Saya berusaha semaksimal mungkin comply dengan UU Pajak & Peraturan Pemerintah, dan berusaha semaksimal mungkin tidak tekor. Saya beli dan pelajari buku-buku tentang pajak dan tax planning. Saya undang konsultan pajak yang direkomendasikan banyak customer saya untuk mempersiapkan dan melatih pegawai saya supaya sanggup mengurus masalah perpajakan. Hasilnya lancar, memang tidak ada masalah di tahun-tahun pertama.

Lagi pula bisnis saya jelas, bikin aplikasi dan transaksinya tidak sebanyak industri lain. Jadi masih terbilang mudah untuk menghitung dan melaporkannya.

Tapi mulai muncul masalah di tahun kedua dan seterusnya. Mulai dari terlambatnya surat pemberitahuan PKP dari kantor pajak yang mengakibatkan denda keterlambatan bayar PPn. Terlambatnya bukan sehari dua hari, tapi 5 bulan. Surat baru kami terima, 5 bulan sejak tanggal surat. Sialnya, denda ini dibebankan kepada kami, wajib pajak. Padahal kesalahan pengiriman dari kantor pajak. Kami protes ke kantor pajak, namun petugas AR itu tidak mau tahu. Mereka memang diprogram seperti robot saja.

“Aturannya begitu, bapak harus bayar.”

Di sini saya mulai sadar, rupanya kantor pajak itu ada niat tidak baik. Mereka sengaja mencari kesalahan wajib pajak, agar kena denda. Kalau tidak ada kesalahan sama sekali, diciptakanlah kesalahan-kesalahan baru yang tidak mungkin dihindari wajib pajak. Denda ini kalau tidak dibayar, kena sanksi denda lagi dan juga bunga. Di sinilah letak kezaliman pemerintah (kantor pajak) yang perlu diwaspadai dan diantisipasi oleh setiap pengusaha di negara ini.

Itu karena dirjen pajak dan wabilkhusus petugas AR, memang dikejar target pemasukan negara. Di satu sisi, petugas AR itu dapat membantu kita sebagai wajib pajak dalam pelayanan, di sisi lain mereka juga harus kejar target.

Saya konsultasi dengan konsultan pajak dan juga teman-teman pebisnis lainnya yang saya anggap lebih taat dan paham pajak dari pada saya. Saya malah diketawain. Karena terlalu lugu menghadapi masalah pajak. Tidak punya siasat. Tidak mungkin semua aturan pajak itu bisa ditaati. Paling maksimal itu kita bisa menghindar atau menyiasati. Banyak jebakan dan aturan yang multitafsir sehingga pelaksanaannya bisa suka-suka petugasnya saja. Dan itu yang diharapkan. Perkara-perkara inilah yang sering menjebak para wajib pajak seperti kita dan perlu diantisipasi.

Kesimpulan saya, niat baik untuk taat pajak itu kalau tidak dibekali siasat yang baik, jadilah kita orang culun yang selalu dikerjain kantor pajak. Situasi ini masih berlangsung hingga tulisan ini saya buat. Dengan wataknya yang seperti itu, saya terus terang tidak berharap banyak bahwa basis wajib pajak dapat bertambah pesat, dan pendapatan negara dari pajak akan meningkat pesat. Kalaupun pendapatan negara itu bertambah dari pajak, tidak akan bermanfaat bagi orang banyak.

Karena caranya jelas batil dan tidak diberkahi. Saya belum bicara tentang tuntunan Rasulullah SAW dalam masalah pajak. Kalau mau bahas ini bisa makan waktu satu semester. Saran saya untuk yang baru jadi wajib pajak, ikuti best practice dari komunitas pebisnis. Jangan telan bulat-bulat saran dari konsultan pajak, dari buku-buku, apalagi dari petugas kantor pajak.

Demikian yang bisa saya share kali ini. Kalau bermanfaat, alhamdulillah. Kalau tidak bermanfaat, mohon dimaafkan.

Btw, yang senang sama The Beatles pasti tahu lagu ini. Baca terjemahannya deh 😀

Remote Control untuk Menyalakan Komputer

Saya ada beberapa komputer yang letaknya cukup tinggi dan sulit dijangkau. Sehingga jika harus start, shutdown, reboot manual cukup merepotkan. Selain itu, saya ada rencana untuk membuat panel kontrol sehingga saya bisa start, shutdown, reboot beberapa komputer dan peralatan sekaligus lewat panel kontrol tersebut. Solusi yang saya pilih kali ini adalah menggunakan Remote Control RF seperti remote control mobil.

Remote Control yang saya gunakan adalah RF Remote Control 2 button dengan frekuensi 433 Mhz. Remote Control ini punya jangkauan cukup jauh yaitu kurang lebih 100 meter. Remote control ini ada beberapa model:

Untuk problem seperti ini, software Remote Desktop, Teamviewer, Radmin, VNC bukan solusinya. Sebab software hanya bisa bekerja jika komputer dalam keadaan menyala/on. Jika komputer dalam keadaan mati, tidak bisa digunakan.

Dan sekarang saya memodifikasi satu buah komputer PC yang saya gunakan untuk build machine, sehingga dapat distart, shutdown dan reboot menggunakan remote control.

Demikianlah proyek cupu saya kali ini, semoga bermanfaat.

Tentang Mengajar

Sesungguhnya saya ini bukan orang pandai, saya cuma dimudahkan mendapatkan petunjuk dan pemahaman.

Saya juga sejatinya tidak mampu membuat orang lain cerdas. Meskipun saya ajarkan ilmunya berkali-kali, saya berikan bukunya, tutorialnya, belum tentu orang lain akan paham.

Jika orang tersebut memang belum mendapat petunjuk dan hidayah, tidak akan paham meskipun diajarkan berkali-kali.

Oleh sebab itu, jangan sekedar belajar dari buku atau tutorial saja. Mintalah hidayah. Mintalah petunjuk dan pemahaman.

Sebab sejatinya, saya cuma alat. Bukan pemberi hidayah, apalagi petunjuk.

Sang Arsitek

Lini masa media sosial menjelang Pilkada DKI ini mulai membosankan. Sebab ada pola yang berulang. Penuh tipu daya.

Dari pada terjebak dengan dukung-mendukung, saya lebih suka mengamati dan mempelajari bagaimana dunia ini diatur, digerakkan dan bekerja. Dari mana asal muasal semua problem ekonomi, sosial dan politik. Bagaimana kita didoktrin di sekolah & universitas. Bagaimana media massa & media sosial membentuk alam bawah sadar. Mencocokkan beberapa kejadian dengan petunjuk-petunjuk yang tercecer.

Dan siapapun arsitek di balik semua ini, saya berharap bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Mahluk seperti apa dia ini?

Tentang Platform

Saya sering bertanya-tanya,

Apa yang membedakan antara orang berilmu dengan orang dungu yang ngaku-ngaku berilmu?

Apa yang membedakan antara keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, dengan keluarga yang berantakan?

Apa yang membedakan antara pebisnis yang sukses, dengan pebisnis wannabe yang ngaku-ngaku sukses?

Apa yang membedakan antara jenderal ahli strategi perang, dengan tentara yang jadi centeng di perkebunan?

Apa yang membedakan antara penguasa yang sejati, dengan politisi yang sok berkuasa?

Apa yang membedakan antara negarawan besar, dengan pejabat negara yang sok negarawan?

Kalau kita pelajari biografinya, atau langsung belajar dari orangnya, maka akan ditemukan banyak faktor pembedanya. Tapi ada satu hal yang sama yang menjadi pembeda paling mendasar, yaitu falsafah.

platform

Dalam belajar menuntut ilmu, orang berilmu punya falsafah dalam belajar.

Dalam berkeluarga, suami istri dalam keluarga sakinah punya falsafah dalam berkeluarga.

Dalam berbisnis, pengusaha besar punya falsafah dalam berusaha. Dalam bekerja, ada pula falsafah dalam bekerja.

Dalam memimpin pasukan bertempur, jenderal besar punya falsafah dalam bertempur. Dalam berkuasa, penguasa sejati pun punya falsafah berkuasa. Dalam bernegara, juga ada falsafah bernegara.

Falsafah ini hasil pemikiran manusia. Falsafah ini berisi pemikiran tentang sesuatu keadaan yang ideal. Keadaan yang ideal ini terinspirasi dari sumber-sumber nilai yang diyakini seperti wahyu (kitabullah), adat, kebiasaan, nasihat, dan kebijaksanaan yang timbul dalam kurun waktu tertentu.

Falsafah hidup orang Jawa, tentu berbeda dengan falsafah hidup orang Batak. Falsafah hidup bangsa Jepang, tentu berbeda dengan falsafah hidup bangsa Korea, walaupun berdekatan.

Oleh karena itu mempertentangkan antara wahyu dengan falsafah adalah perbuatan yang tidak didasari ilmu. Wahyu menuntun akal supaya dapat memformulasikan apa falsafah yang sesuai dengan jaman dan situasi. Menolak wahyu, adalah perbuatan yang takabur dan jauh dari ilmu. Sebab akal pun terbatas. Pemahaman manusia sangat dibatasi oleh persepsinya terhadap segala sesuatu.

Falsafah ini yang saya sebut platform. Sebuah landasan berpikir dan bertindak. Di atas landasan tersebut, barulah kita bisa membangun kerangka atau model. Sebuah bentuk yang mewakili gagasan-gagasan yang dilahirkan dari platform tersebut.

chichen_itza-platform_of_venus

Dalam belajar, ada metode belajar atau kerangka belajar. Dalam bekerja, ada kerangka kerja. Dalam berusaha, ada kerangka usaha yang sekarang disebut business model. Dalam bernegara, ada juga model negaranya. Begitu juga dalam bermasyarakat, berkeluarga, dan lain sebagainya.

Kalau ada siswa yang tidak maju-maju dalam belajar, biasanya dia ngga punya platform belajar yang tepat. Coba kasih tahu landasan berpikirnya dan berikan kerangka belajar yang benar. Insya Allah dia akan maju pesat dalam belajar.

Baca Juga: Kerangka Belajar Pemrograman

Kalau ada keluarga yang berantakan, biasanya suami dan istri tidak punya platform yang tepat dalam berkeluarga. Kalau platformnya tidak jelas, bagaimana dia bisa membina rumah tangga yang rukun?

Kalau ada bisnis yang ngga maju-maju, kemungkinan besar owner tidak punya platform yang jelas. Kalau platformnya tidak jelas, bagaimana dia merancang business model yang tepat? Paling ikut-ikutan saja.

Dan orang ngga punya platform, mudah ditipu.

Betapa pentingnya platform ini bukan? Sayangnya memang tidak banyak orang yang punya platform. Kalau sekedar ngarang sih, ya gampang. Tapi butuh olah pikir, memeras otak, mengerahkan tenaga, meminta petunjuk yang cukup supaya bisa menyusun platform yang rahmatan lil-alamin.

Begitu juga kalau dalam kehidupan bernegara kita ngga punya platform, tentu akan banyak masalah. Sibuk berpolitik, tak pernah benar-benar berkuasa. Sibuk bekerja, tapi tak pernah benar-benar sejahtera. Sibuk bertikai, tak pernah selesai. Sangat berbahaya.

burning-platform

Dan apa jadinya jika kita bekerja di atas sebuah platform yang sedang runtuh atau terbakar? Apakah ada platform yang sedang runtuh di dunia ini?

Ada, kapitalisme dan demokrasi.

Mengapa Agama Dijadikan Alat Kampanye

Sejak saya sekolah, biasanya menjelang PEMILU,  mulai ramai kampanye untuk memilih pemimpin se-akidah dan larangan memilih pemimpin non-muslim. Hanya menjelang PEMILU tok. Di kalangan agama lain pun sama sebetulnya. Kampanye mendukung pemimpin yang satu akidah dan jangan memilih pemimpin yang beda akidah ada di kelompok agama manapun. Hanya saja, tidak dibicarakan secara terbuka atau ramai-ramai.

Begitu juga ketika masuk kuliah. Setiap ada pemilihan ketua himpunan, ketua unit, ketua oskm, apalagi pemilihan Presiden KM-ITB, pasti diwarnai dengan kampanye menggunakan isu agama.

Tentu saya bertanya, mengapa agama dijadikan alat kampanye politik?

Di negara yang platformnya berbasis demokrasi, kekuasaan diperoleh berdasarkan suara terbanyak. Maka semua orang didorong untuk membuat kelompok dan memperbanyak pengikut. Makin banyak anggota, pengikut, followers, voters, dianggap makin berkuasa.

Sehingga kelompok-kelompok dengan identitas suku, budaya, pendidikan, agama juga berlomba-lomba mencari pengikut. Yang dicari adalah pengikut. Bukan kebenaran hakiki. Di sini suku, budaya, kelompok, agama tidak lain adalah partai politik juga.

Bukan hanya pengikut lama atau konstituen, tapi juga pengikut dadakan atau floating mass atau swing voters. Sebab ternyata dari segi jumlah pun, floating mass atau swing voters ini sangat besar.

Kita sudah bertanya, mengapa agama dijadikan alat kampanye. Pernahkah kita teliti, sumber masalahnya adalah demokrasi itu sendiri. Itu karena by nature, di alam demokrasi, pengikut/followers/voters lebih penting dari Tuhan.

Jika sistem politik tidak berdasarkan suara terbanyak, tapi berdasarkan kesesuaian/compliance, ketaatan/kepatuhan dengan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kemampuan, ilmu, orang tidak perlu berlomba-lomba mencari pengikut. Tidak perlu mengkafir-kafirkan golongan lain. Tidak perlu melabeli kelompok lain itu kafir, bid’ah, sesat dan sebagainya.

Tapi ini demokrasi… satu suara ulama atau wailyullah, sama nilainya dengan saya yang awam dan bodoh ini. Suara profesor, doktor, setara dengan suara saya yang ngawur ini. Betul?