Produk, Project dan Prakarya

Beberapa tahun lalu saya dan kawan-kawan sedang berdiskusi mengenai kerjaan masing-masing. Ada yang menarik dalam diskusi itu, kawan saya mengatakan kepada timnya bahwa “kita ini bikin produk, bukan prakarya”. Dari situ pembicaraan mengenai produk vs prakarya ini membantu kami dalam mendefinisikan dengan jelas, mana produk, mana prakarya, mana proyek.

Prakarya

Prakarya dedefinisikan sebagai hasil karya yang belum jadi, baru sekedar proof of concept, atau sebuah prototipe. Prakarya tidak punya definisi target market yang jelas, oleh sebab itu belum ada penggunanya atau konsumennya. Satu-satunya penggunanya mungkin si developer atau desainer itu sendiri. Kualitas belum menjadi perhatian sebab yang penting bentuk dasarnya saja. Harga sebuah prakarya ditentukan sangat subyektif sebab belum tahu potensi pasarnya.

Project

Proyek kami definisikan sebagai hasil karya yang ditujukan untuk 1 single client, biasanya datang berdasarkan pesanan orang atau perusahaan yang membutuhkan. Satu orang, satu perusahaan, satu instansi tetap dihitung satu. Delivery modelnya juga langsung antara developer dan client. Fungsi yang dibangun dalam proyek mengikuti kebutuhan client, dan sangat customized. Sebuah proyek software keuangan untuk instansi A belum tentu bisa dipakai di instansi B. Karena penggunanya cuma 1, biasanya harganya juga mahal sebab seluruh biaya pembuatan proyek dibebankan kepada 1 client tersebut. Aspek kualitas mulai jadi perhatian sebab proyek yang kualitasnya jelek akan menimbulkan kekecewaan client dan akhirnya bisa dibatalkan/tidak dibayar.

Produk

Produk didefinisikan sebagai hasil dari sebuah proses yang distandarisasi. Produk ditujukan untuk target market yang jelas, baik itu niche market atau consumer market. Satu segmen pasar berpotensi mendapatkan minimal 1000 atau 1.000.000 pengguna, tergantung segmen pasarnya. Karena produk ini akan digunakan oleh pengguna yang demikian banyak, kualitas sangat kritikal. Sebab produk yang kualitasnya jelek akan ditolak oleh pasar dan menimbulkan kerugian akibat retur atau refund.

Produk memiliki fitur atau fungsi yang standar atau baku. Customisasi tidak menjadi perhatian. Harga yang ditawarkan harus murah, setidaknya terjangkau oleh target market yang dituju. Tidak boleh lebih mahal dari willing to pay mereka.

Kerancuan

Dalam percakapan sehari-hari tentu kita sering salah komunikasi mengenai hal ini. Banyak orang bilang dia bikin produk, padahal dia bikin prakarya atau project. Namun saat ditanya target marketnya siapa, tidak bisa dijelaskan. Oleh sebab itu penting kiranya kita menyamakan persepsi mengenai hal ini. Poin pembedanya adalah Target Market dan Standar Kualitas yang diperlukan.

Nah, berdasarkan definisi tersebut, semoga cukup membantu menjelaskan apakah kita bikin produk, proyek atau prakarya?