Pengusaha Kerja (Minimal) 90 Jam Seminggu

Di dunia kerja, umumnya karyawan bekerja selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Skema ini biasa dikenal dengan skema 8×5. Untuk yang bekerja 6 hari seminggu, biasanya menggunakan skema 7×6. Pada hari Sabtu, mereka pulang cepat pada jam 2 siang. Terima kasih kepada kaum buruh sosialis di Inggris yang membuat gerakan 8 jam sehari pada tahun 1810. Tanpa mereka, Anda mungkin masih harus bekerja 10 – 16 jam sehari seperti awal Revolusi Industri di Eropa. (Baca: Eight Hour Day)

Eight hour day movement

Eight hour day movement

Bagaimana dengan pengusaha? Berapa jam kerja rata-rata yang dimiliki para pengusaha?

Anda mungkin membayangkan bahwa jadi pengusaha tentu lebih enak sebab tidak perlu repot-repot bekerja sepanjang hari sampai 8 jam. Tinggal ongkang-ongkang kaki saja dapat uang. Begitu kan?

Yak, salah! Kebanyakan rekan-rekan pengusaha yang saya kenal itu gila kerja. Kalau sudah kerja, kami biasa menghabiskan antara 18 jam – 20 jam sehari. Jika Sabtu – Minggu mau libur, artinya kami biasa bekerja 90 jam seminggu. Mungkin ini berlaku untuk mereka yang memulai usaha dengan cara bootstrapping, dikerjakan sendiri. Bukan untuk mereka yang sudah punya modal.

Tidak ada bayaran untuk lembur. Jika Anda mempekerjakan karyawan lebih dari 40 jam seminggu tanpa membayar lembur, Anda bisa dijebloskan ke penjara karena melanggar UU no 13 tahun 2003 tentang Tenaga Kerja. Tapi bagi pengusaha, mana ada istilah lembur?

Bekerja sepanjang hari seperti itu bukan karena tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Tapi memang disebabkan aktifitas yang tidak bisa dibatasi jam kerja yang cuma 8 jam sehari itu. Ada kalanya kita harus pergi pagi-pagi buta ke Bandara, ketemu orang di luar kota, kemudian pulang sore harinya. Tidak menginap sama sekali. Itu salah satu contoh sederhana.

Ketika saya membuat Voucha versi 1.0 pada tahun 2005, saya menghabiskan kira-kira 12 – 18 jam sehari selama 3 bulan lamanya. Pekerjaan membuat software adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu, menguras otak dan energi. Sementara waktu yang tersedia biasanya sangat terbatas. Saya sering begadang untuk menghindari gangguan di siang hari dan mencari suasana yang tenang. Akibatnya adalah kekebalan tubuh menurun dan jadi sering jatuh sakit.

Sakit yang sering datang biasanya sakit kepala, flu, demam, dan gejala typhus. Untung saya tidak pernah masuk rumah sakit gara-gara typhus. Biasanya harus istirahat sampai 1 minggu lamanya. Makanya olah raga itu penting sekali.

Begitu juga ketika saya membuat Voucha versi 2 pada bulan Mei 2006. Saya sering menginap di tempat client, tidur di sana, sahur di sana. Selain membuat software, saya juga membuat sendiri dokumen-dokumen MoU, Kontrak, Invoice, dan lain-lain. Pekerjaan Technical Support juga saya sendiri yang pegang. Bisa dibilang mulai dari tukang pasang kabel sampai mengirim tagihan, semua saya kerjakan sendiri karena saya belum sanggup menggaji pegawai.

Mulai tahun 2008 semua berangsur-angsur saya delegasikan. Saya sudah sanggup mempekerjakan Technical Support, Admin dan Programmer. Jadi sekarang programmer bisa fokus membuat software, technical support bisa fokus melayani para user, admin bisa fokus melayani administrasi.

Namun itu bukan berarti saya bisa ongkang-ongkang kaki saja sambil ngeliatin duit masuk. Itu sangat membosankan. Satu hari saja diam tidak melakukan apa-apa saya sudah merasa bosan. Jadi suka cari kegiatan lain, setidaknya baca buku atau ngoprek.

Ini juga banyak dilakukan oleh para pengusaha besar Indonesia yang sukses seperti Om Willam pendiri Astra, Ir. Ciputra pendiri Grup Ciputra, Bob Sadino, dan lain-lain,

Coba Anda perhatikan juga mereka yang sudah sukses seperti Bill Gates, Steve Jobs, Sergey Brin, Larry Page, Jeff Bezos, Richard Branson. Apakah mereka kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki saja sambil liatin duit masuk? Tidak sama sekali. Walaupun mereka sangat bisa melakukannya, tapi mereka tidak akan melakukannya. Karena mereka pada dasarnya gila kerja, sampai hari ini mereka pasti punya kesibukan setiap hari dan tidak bisa dibatasi oleh jam kerja 40 jam seminggu.

Kalau melihat kesamaan di antara mereka, itu sudah menjadi habit yang wajib dimiliki oleh mereka yang berprofesi sebaga pengusaha. Kalau Anda hanya mau bekerja 40 jam seminggu, datang pagi pulang sore, bisa dipastikan Anda tidak cocok jadi pengusaha. Lebih baik cari pekerjaan lain.

 

 

 

Incoming search terms:

  • good!

  • Kamal

    tanya, pas mas ilham bikin voucha 1 yg katanya kerja 18-20 jam sehari itu dalam artian bner2 ngoding di depan komputer selama 18-20 jam sehari atau enggak?

    saya juga bisa segitu lamanya klo di depan komputer, tapi banyak diselingin facebookan, baca2 blog teknologi, ngoprek2 tools open source dsb. intinya banyak distraction nya (walopun banyak dari distraction itu juga secara tidak langsung jatohnya kerjaan juga sih). gimana caranya ngejaga fokus ketika bikin software kayak gitu mas?

    • Ya ngga koding terus menerus. Karena waktu itu cuma sendirian, jadi semua pekerjaan saya kerjakan sendiri. Termasuk ngurus website/VPS, maintenance server, betulin pc, ngoprek hardware baru, belanja, dan lain-lain.

      Selain itu memang betul banyak sekali distraction dan gangguan yang saya alami. Ada tamu lah, telepon, facebookan (mulai tahun 2009), orang nanya-nanya lewat YM, dan lain sebagainya.

      Biasanya supaya tetap fokus saya pasang headphone, lalu setel musik metal/rock keras-keras. Hahaha 😀

  • Pingback: Sulit Belajar Programming, Apa Sebabnya? - Ilham Rizqi Sasmita()

  • Jangan lupa ibadah.

    Hidup bukan cuma kerja nyari uang 🙂

    Alih-alih sukses didunia tapi masuk neraka kan ga lucu 😀

  • Arie

    Betul banget pak ilham, pengusaha apalagi yang baru merintis memang sudah seharusnya bekerja lebih dari seorang karyawan bekerja