Tidak Usah Kirim Lamaran Wahai Pemalas!

bis-surat

Saya baru saja memposting di blog ini beberapa lowongan pekerjaan di PT. Sandiloka, perusahaan software yang saya dirikan pada tahun 2011. Semuanya ada di kategori Job. Kami sudah eksis di industri software ini sejak tahun 2006, dan fokus di aplikasi server. Perusahaan ini memang kecil Tapi Anda boleh periksa dokumen-dokumen legal dan periksa catatan pajak kami. Bersih! Lagipula, pada dasarnya ini bisnis padat teknologi dan padat modal, bukan padat karya.

Alamat kantor kami jelas, Komplek Dai Chi Kavling 41 – Jalan Terusan Jakarta Utara Antapani, Bandung, 40291.

Soal kredibilitas, oke ya?!

Nah Biasanya saya menggunakan layanan dari JobsDB. Namun karena kualitas kandidat yang didapatkan tidak begitu bagus, saya mencoba posting di blog pribadi. Maksudnya untuk membuat workflow rekrutmen sendiri.

Sebetulnya perbedaan intinya bukan di blognya, tapi di proses deseleksinya. Tunggu, proses deseleksi? Ya, inti dari proses rekrutmen bukan soal seleksi, tapi deseleksi kandidat yang tidak sesuai kualifikasi agar tidak mengirim lamaran. Biarkan kandidat yang sesuai kualifikasi saja yang mengirim lamaran. Kandidat yang sesuai kualifikasi akan kami panggil melalui telepon atau email untuk mengatur jadwal testing kemampuan yang dibutuhkan dan psikotest. Selain itu, tidak dipanggil.

Kirim lamaran dan CV lewat email? Lupakan saja kawan! Kandidat yang baik tidak bisa dilihat dari CV, tapi dari kualitas pribadinya.

Better Fewer But Better!

Tentu saja yang mengirim lamaran jadi makin sedikit! Memang itu tujuan intinya, fokus pada kandidat yang berkualitas saja. Tidak boleh lagi kita memilih kandidat dari ratusan lamaran yang bertumpuk-tumpuk. Sehingga waktu, energi dan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan kandidat yang sesuai kualifikasi jadi lebih sedikit. Volume sampah-sampah kertas akibat lamaran yang nyasar dan tidak sesuai kualifikasi bisa ditekan, sebab jumlah sampah kertas dari proses rekrutmen juga satu persoalan.

Betul saja! Belum lama berselang posting ini saya sebarkan di web, mailinglist dan facebook sudah ada yang kirim sms maupun komentar di facebook fanpage. Untuk mereka yang bertanya hal-hal seperti ini:

“Syaratnya apa saja?”

“Lokasinya di mana?”

“Kirim lamarannya ke mana?”

“Gajinya berapa?”

Atau kayak gini:

sms-lamaran-pemalas

facebook-lamaran-pemalas

Tidak akan saya jawab! Sebab itu indikasi mereka tidak baca sampai selesai, tidak mengisi formulir yang diberikan. Entah sudah jadi kebiasaan, atau gaptek, atau memang tidak bisa baca, saya tidak tahu. Tapi yang jelas kami tidak membutuhkan orang gaptek, malas membaca dan mengisi form.

Anda malas membaca? Anda malas mengisi form? Lupakan soal lamaran! Tidak usah mengirim lamaran wahai pemalas!

 

Incoming search terms: