Bangsa yang tidak terbiasa TERTIB

Ada satu customer saya yang tidak terbiasa tertib, dia mengalami kerusakan data pada databasenya akibat shutdown yang tidak benar atau mati listrik. Kejadian ini berulang-ulang hampir tiap 2 minggu sekali. Padahal tinggal pasang UPS dan jalankan prosedur maintenance yang benar.

Ada satu customer saya yang lain, dia sering mengalami fraud internal yang dilakukan anak buahnya. Modusnya pun sama. Dan kejadian ini berulang, tidak hanya satu kali. Padahal tinggal buat prosedur untuk proses penerimaan uang, penambahan saldo dan laporan. Kalau orangnya ngga mau jalankan, ya ganti orang.

Satu customer saya yang lain sering melakukan salah transfer (salah jumlah, salah berita) sehingga invoicenya tidak terproses secara otomatis. Transfernya pun dilakukan di hari libur atau tengah malam, di mana pada waktu tersebut, kita belum bisa mengecek dana yang masuk ke rekening. Padahal tinggal buat jadwal kapan harus transfer pembayaran.

Ketika saya sedang mengendarai sepeda motor saya berpikir, mengapa pengendara sepeda motor (termasuk saya) suka ugal-ugalan. Perilaku ugal-ugalan ini bukan hanya ditunjukkan oleh laki-laki, tapi juga ibu-ibu. Padahal rambu-rambu lalu-lintas banyak, polisi juga ada, tapi hampir semua marka jalan dan rambu lalu-lintas itu dilanggar. Jangankan dalam pandangan pengendara mobil, sesama pengendara motor saja sebal melihatnya ­čśÇ

Dalam kesempatan lain, ketika saya sedang mengantri tiket commuter line, tiba-tiba seseorang menyerobot langsung ke depan loket tanpa mengantri. Dan herannya sama kasirnya pun dilayani. Kalau begitu buat apa saya mengantri, kalau bisa menyerobot? Mengapa orang-orang ini tidak mau mengantri? Bukankah nanti naik keretanya bareng?

Dalam kasus lainnya, saya mulai mentertibkan proses bisnis di kantor dengan membuat S.O.P (Standard Operation Procedure). Tujuannya jelas, memastikan proses berjalan dengan benar dan tepat sasaran. Bermodal pengetahuan dari trainer, saya bikin S.O.P yang simpel, dan urutan langkahnya paling banyak 7 langkah. Supaya semua orang bisa mengikuti. Ada prosedur untuk penerimaan uang, prosedur pengajuan dana, prosedur maintenance, troubleshooting, software development dan lain sebagainya.

Ternyata walaupun sudah dibikin mudah, tidak semua orang mau mengikuti. Hanya sebagian kecil saja dan lucunya, justru karyawan baru yang mau mengikuti. Karyawan lama cenderung menolak.

Nah di sinilah saya sampai pada pemikiran bahwa kebanyakan orang itu tidak terbiasa tertib, tidak mau mengikuti sebuah sistem, tidak terbiasa menghormati aturan. Akibatnya jelas, banyak kekacauan, kebocoran, penggelapan, korupsi, dan masalah-masalah sosial lainnya. Masalah ini berulang, menular, menyebar, dan meluas dampaknya.

Padahal dalam pelajaran sholat wajib 5 waktu saja, ada rukun sholat. Dan yang paling menarik dari setiap rukun itu adalah rukun terakhir yaitu TERTIB. Tertib yang dimaksud adalah sesuai urutan, tidak boleh sujud dulu baru ruku. Dan tertib yang lainnya adalah mengikuti aturan. Harus menghadap kiblat, bukan menghadap kebun misalnya. Kalau tidak tertib, jelas tidak sah sholatnya dan harus diulangi.

Bagaimana dengan aktifitas sehari-hari? Mengapa orang tidak mau tertib? Bukankah aktifitas sehari-hari juga termasuk ibadah atau kesempatan melakukan pekerjaan sebaik-baiknya?

Mari bandingkan dengan bangsa lain yang sudah bisa membuat mesin, mobil, pesawat terbang, roket, pesawat ulang-alik, robot dan penemuan-penemuan lainnya. Lihatlah bagaimana kemampuan mereka untuk tertib, mengikuti sebuah sistem, disiplin menjalankannya telah membuat bangsa mereka naik kelas beberapa derajat lebih tinggi.

Di sinilah saya menemukan bahwa negara kita ini terlalu banyak menghambur-hamburkan dana untuk membuat peraturan, undang-undang, prosedur, sistem, namun lupa membangun dan memperbaiki manusianya. Padahal inti masalahnya itu ada di manusia yang tidak mau mengikuti aturan, tidak terbiasa tertib, tidak mau menjalankan sebuah sistem.

Semoga saya termasuk orang yang tertib. Amiiin….