Monthly Archives: August 2019

Makin Kapitalistik, Negara Makin Lemah

The Pyramid of Capitalism, 1911

Tidak ada kekuatan tanpa persatuan. Tidak ada persatuan tanpa perdamaian. Tidak ada perdamaian tanpa keadilan. Maka syarat untuk kuat dan bersatu ya ADIL. Tapi paham negara kapitalistik ini, persatuan adalah hanya soal wilayah. Keutuhan wilayah ini dibutuhkan untuk mengeruk sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut, untuk dinikmati segelintir orang. Dan inilah yang menimbulkan ketidakadilan.

Wilayah-wilayah yang besatu dalam kerangka Republik Indonesia ini dipertahankan karena sumber daya alamnya saja. Aceh dikeruk minyak dan gasnya. Papua dikeruk emasnya. Kalimantan dikeruk batubaranya. Tapi rakyatnya bagaimana? Apa hak-hak dasarnya dipenuhi? Apa tumpah darah rakyatnya dilindungi? Apakah satwa-satwanya dilindungi? Apakah lingkungannya dilindungi dari kerusakan?

Lalu sampai kapan dipertahankan? Jika sumber daya alamnya habis dan tanahnya tidak produktif lagi, apakah Aceh, Papua, dan Kalimantan masih dilindungi? Atau akan dilepas ke pihak asing untuk mengelolanya?

Kita belum bicara soal konflik agraria yang juga terjadi di Jawa dan wilayah lainnya ya.

Makin kapitalistik, artinya persatuan makin lemah, kekuatan negara makin lemah. Tidak akan mampu mempertahankan kedaulatannya. Lucunya, masalah perpecahan ini justru diatasi dengan melimpahkan kesalahan kepada pihak lain dengan menciptakan musuh bersama atas nama RADIKALISME dan INTOLERANSI. Alih-alih memperkokoh persatuan, justru menambah masalah baru. Alih-alih menghilangkan akar masalahnya, cara ini justru menciptakan masalah baru. Umat islam yang sebetulnya “tentara cadangan” yang siap diterjunkan untuk bela negara, malah dijadikan musuh bersama. Ulamanya dikriminalisasi, ustadznya dipersekusi, kajiannya dibubarkan. Tujuannya apa? Mau melemahkan kekuatan cadangan negara ini? Mau mengalienasi masyarakat dari masalah sebenarnya?

Karena strategi itu tidak efektif, dicobalah cara lain untuk mengobarkan semangat persatuan dengan doktrinasi, seremoni yang tujuannya glorifikasi semangat kebangsaan. Padahal glorifikasi ini tidak pernah berhasil mengatasi akar masalahnya, yaitu ketidakadilan. Sekarang, satu demi satu rakyat marah atas ketidakadilan yang menimpa mereka. Sudah semestinya kita mengevaluasi arah negara ini menuju ke mana.

Sekali lagi, makin kapitalistik maka konsekuensinya negara makin lemah. Itu problem pada sistem. Sistem yang cacat by design. Karena dirancang untuk memperkaya segelintir orang yang 3% dari populasi, dan menciptakan pemiskinan pada 97% lainnya. Merendahkan martabat manusia. Tidak akan bisa diatasi dengan doktrinasi, seremoni dan nyanyi-nyanyi.

Untuk menyelamatkannya, tidak mungkin kita menggunakan kerangka berpikir yang kapitalistik. Sebab sudah jelas cara-cara kapitalistik itu yang justru menimbulkan masalah. Kita butuh cara lain, butuh kerangka berpikir yang lain.

Ini hanya untuk manusia yang mau diajak berpikir.

Menghitung Kapasitas Panel Surya Yang Dibutuhkan

Rooftop Solar Panel

Hari minggu kemarin, 4 Agustus 2019, listrik mati selama sekitar 8 jam. Dimulai pukul 10.51 dan menyala sekitar 18.55. Dari 2 UPS kecil yang terpasang untuk membackup router, switch, CCTV IP camera dan NVR, satu unit UPS hanya sanggup membackup 1 jam. Satu UPS lagi hanya 3 jam. Sisanya blackout.

Belajar dari pengalaman ini, saya berencana untuk memasang sistem listrik alternatif. Pilihannya pakai genset diesel atau panel surya. Kalau pakai genset diesel, cukup mudah, tinggal beli genset diesel 5kva. Selesai. Tapi kalau panel surya, berapa kapasitas panel surya yang dibutuhkan? Mungkin Anda yang berencana memasang panel surya, punya pertanyaan serupa.

Setidaknya ada 2 pendekatan untuk menghitung kapasitas panel surya yang dibutuhkan. Pendekatan pertama, pasang kapasitas maksimal. Pendekatan kedua, pasang kapasitas yang dibutuhkan saja.

Sebelum menghitungnya, kita asumsikan bahwa cuaca sepanjang tahun ini cerah dan matahari bersinar penuh selama 4 jam. Untuk daerah lain, silakan sesuaikan. Biasanya sekitar 3 – 4 jam.

Kapasitas Maksimal

Untuk mensuplai daya listrik 2200 watt sepanjang hari, maka kapasitas yang dibutuhkan adalah:

Total Suplai:

24 jam x 2200 watt = 52800 watt.

Kapasitas Panel surya yang dibutuhkan:

52800 / 4 jam = 13200wp

Jumlah panel surya 200wp yang dibutuhkan:

13200/200 = 66 lembar

Harga satu lembar panel surya 200wp (tanpa ongkir) adalah Rp 2.000.000

Maka biaya yang dibutuhkan untuk panel surya adalah:

66 x 2.000.000 = 132.000.000

Lumayan kan? Belum baterainya lho 😀

Kapasitas Secukupnya

Dengan pendekatan ini kita hanya cukup mengetahui konsumsi daya listrik per hari saja. Untuk kasus saya, konsumsi daya listrik rata-rata per hari adalah 10kwh/hari.

Maka untuk mensuplai daya listrik 10kwh atau 10.000 watt hour, panel surya yang dibutuhkan adalah:

10.000 watt hour / 4 jam = 2500 watt.

Jumlah panel surya 200wp yang dibutuhkan adalah:

2500/200 = 12.5 lembar.

Kita bulatkan ke 13 lembar.

Harga satu lembar panel surya 200wp (tanpa ongkir) adalah Rp 2.000.000

Maka biaya yang dibutuhkan untuk panel surya adalah:

13 x 2.000.000 = 26.000.000

Jauh lebih murah dibandingkan sebelumnya. Tinggal disiapkan saja bagaimana upgradenya, jika konsumsi listrik sudah lebih dari 10kwh/hari.

Catatan

  • Yang dihitung baru kapasitas panel surya saja, belum baterai.
  • Asumsi yang digunakan adalah 4 jam penyinaran efektif per hari. Tidak menghitung kemungkinan cuaca mendung atau gelap.
  • Kapasitas riil yang harus dipasang disarankan 2.5 kali angka di atas.

Selamat menabung 😀

Sumber foto: https://www.energymatters.com.au/panels-modules/choosing-solar-panels/