Makin Kapitalistik, Negara Makin Lemah

The Pyramid of Capitalism, 1911

Tidak ada kekuatan tanpa persatuan. Tidak ada persatuan tanpa perdamaian. Tidak ada perdamaian tanpa keadilan. Maka syarat untuk kuat dan bersatu ya ADIL. Tapi paham negara kapitalistik ini, persatuan adalah hanya soal wilayah. Keutuhan wilayah ini dibutuhkan untuk mengeruk sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut, untuk dinikmati segelintir orang. Dan inilah yang menimbulkan ketidakadilan.

Wilayah-wilayah yang besatu dalam kerangka Republik Indonesia ini dipertahankan karena sumber daya alamnya saja. Aceh dikeruk minyak dan gasnya. Papua dikeruk emasnya. Kalimantan dikeruk batubaranya. Tapi rakyatnya bagaimana? Apa hak-hak dasarnya dipenuhi? Apa tumpah darah rakyatnya dilindungi? Apakah satwa-satwanya dilindungi? Apakah lingkungannya dilindungi dari kerusakan?

Lalu sampai kapan dipertahankan? Jika sumber daya alamnya habis dan tanahnya tidak produktif lagi, apakah Aceh, Papua, dan Kalimantan masih dilindungi? Atau akan dilepas ke pihak asing untuk mengelolanya?

Kita belum bicara soal konflik agraria yang juga terjadi di Jawa dan wilayah lainnya ya.

Makin kapitalistik, artinya persatuan makin lemah, kekuatan negara makin lemah. Tidak akan mampu mempertahankan kedaulatannya. Lucunya, masalah perpecahan ini justru diatasi dengan melimpahkan kesalahan kepada pihak lain dengan menciptakan musuh bersama atas nama RADIKALISME dan INTOLERANSI. Alih-alih memperkokoh persatuan, justru menambah masalah baru. Alih-alih menghilangkan akar masalahnya, cara ini justru menciptakan masalah baru. Umat islam yang sebetulnya “tentara cadangan” yang siap diterjunkan untuk bela negara, malah dijadikan musuh bersama. Ulamanya dikriminalisasi, ustadznya dipersekusi, kajiannya dibubarkan. Tujuannya apa? Mau melemahkan kekuatan cadangan negara ini? Mau mengalienasi masyarakat dari masalah sebenarnya?

Karena strategi itu tidak efektif, dicobalah cara lain untuk mengobarkan semangat persatuan dengan doktrinasi, seremoni yang tujuannya glorifikasi semangat kebangsaan. Padahal glorifikasi ini tidak pernah berhasil mengatasi akar masalahnya, yaitu ketidakadilan. Sekarang, satu demi satu rakyat marah atas ketidakadilan yang menimpa mereka. Sudah semestinya kita mengevaluasi arah negara ini menuju ke mana.

Sekali lagi, makin kapitalistik maka konsekuensinya negara makin lemah. Itu problem pada sistem. Sistem yang cacat by design. Karena dirancang untuk memperkaya segelintir orang yang 3% dari populasi, dan menciptakan pemiskinan pada 97% lainnya. Merendahkan martabat manusia. Tidak akan bisa diatasi dengan doktrinasi, seremoni dan nyanyi-nyanyi.

Untuk menyelamatkannya, tidak mungkin kita menggunakan kerangka berpikir yang kapitalistik. Sebab sudah jelas cara-cara kapitalistik itu yang justru menimbulkan masalah. Kita butuh cara lain, butuh kerangka berpikir yang lain.

Ini hanya untuk manusia yang mau diajak berpikir.