Perubahan Sandiloka 2016

Selamat Tahun Baru 2016. Semoga kita makin bermanfaat bagi orang lain. Semoga karya-karya kita makin besar dan makin luas dampaknya bagi orang lain. Semoga perbaikan-perbaikan yang kita lakukan makin terasa pula hasilnya di tahun-tahun mendatang. Amiin.

Setelah babak belur selama beberapa tahun terakhir, dan mendekati titik nadirnya di tahun 2015 kemarin, saya memutuskan untuk merubah konsep bisnis dan strategi bisnis Sandiloka mulai tahun 2016 ini. Berikut yang bisa saya bagikan.

Konsisten di SaaS

Kami sudah menjalankan business model SaaS (Software as a Service) sejak Maret 2009. Walaupun untuk jangka panjang dan jangka pendek model ini berhasil namun ada perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan yaitu lebih konsisten.

Software Development adalah Premium Service/Project

Sebelumnya kami menyediakan layanan pembuatan aplikasi yang sifatnya add-on secara gratis. Ternyata permintaan untuk membuat fitur tambahan, add-on, customisasi ini memang banyak peminatnya. Karena gratis, akhirnya permintaannya lebih besar dari kapasitas yang tersedia.

Karena permintaannya memang besar, oleh sebab itu, mulai tahun ini kami tidak lagi melayani pembuatan aplikasi atau fitur gratisan. Jika pelanggan menginginkan ada fitur X, atau aplikasi Y, atau modul Z, maka akan dikenakan biaya tergantung bobot dan kompleksitasnya.

Support adalah Premium Service

Sebelumnya kami menyediakan support gratis atau included dalam produk atau layanan yang kami sediakan. Ternyata lebih dari 80% pekerjaan support itu tidak berhubungan dengan produk dan layanan kami antara lain: menginstall aplikasi lain, setting router, setting TCP/IP, membersihkan virus, dll.

Model ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena gratis, permintaan selalu lebih besar dari persediaan/kapasitas yang ada. Jika permintaannya memang besar, support tidak perlu dihilangkan, cukup dikenakan biaya per-jam sesuai kategori. Bagi pelanggan silakan saja meminta layanan bantuan apapun, yang penting invoicenya dibayar 🙂

Budayakan DIY (Do It Yourself)

Kalau kita perhatikan layanan-layanan SaaS di seluruh dunia, biasanya kita tidak akan menemukan adanya nomor telepon atau YM untuk helpdesk/support. Paling banter juga ada LiveChat yang hanya bisa diakses dari website masing-masing. Dokumentasi, Tutorial, dan Tanya-Jawab di website/mailinglist/forum sudah biasa.

Berbeda sekali dengan kultur pelanggan yang kami hadapi di Indonesia. Mereka selalu minta kontak nomor telepon atau YM. Kalau kontak, harus langsung ke ownernya, tidak mau dilayani oleh staf support atau bagian administrasi. Dikit-dikit telepon, dikit-dikit kontak ownernya. Maunya dilayani langsung sama bosnya.

Padahal kita tahu, sebagai owner kita juga punya pekerjaan lain dan tanggung jawab yang lebih besar. Bukannya sok sibuk atau sok penting. Tapi memang begitulah kenyataannya, ada pembagian tugas. Nah pelanggan yang model begini nih yang bikin kita ngga bisa growth. Di saat kita harus melakukan tugas yang sangat penting dan perlu terobosan, malah diminta melayani hal-hal yang rutin dan bisa dikerjakan orang lain. Sangat tidak scalable.

Untuk melayani kebutuhan pelanggan, makanya kita merekrut SDM khusus untuk itu. Mendelegasikan pekerjaan tersebut kepada mereka. Membuat tutorial, dokumentasi, knowledge base, supaya siapapun bisa mengakses dan membaca petunjuknya.

Menggunakan Platform Open Source

Salah satu kelebihan menggunakan platform open source adalah tersedianya library, komponen, API, bahkan aplikasi yang bisa kita reuse, kita improve dan kita berikan kontribusi. Tanpa harus memikirkan biaya lisensi yang sangat mahal.

Hal ini sangat penting bagi perusahaan kecil dengan keterbatasan modal seperti kami. Dengan menggunakan platform open source mulai dari Operating System (Linux, FreeBSD), programming language (PHP, Python, Ruby, Node.js), kami jadi lebih gesit dalam membuat aplikasi.

Sangat berbeda dengan sebelumnya ketika kami menggunakan Windows sebagai operating system, dan Delphi. Lisensinya mahal, harga komponennya mahal, jumlah developernya sedikit, dan tidak cocok dengan kebutuhan saat ini.

Sedikit demi sedikit, saya porting aplikasi dan komponen yang ada menjadi komponen open source yang dibuat menggunakan PHP, Python, Ruby dan Nodejs.

Demikianlah yang bisa saya bagikan kali ini, semoga bermanfaat.

 

Mencari Mimit

photo_2015-12-21_23-43-13

 

Perkenalkan ini namanya Mimit, dia kucing persia medium jantan. Mimit anaknya Pluto (sudah almarhum), kucing kampung yang pintar dan pemberani. Induknya namanya Moci (hilang), kucing persia medium juga. Mimit lahir 15 Januari 2012, bertepatan dengan peringatan Malari. Bertepatan dengan dimulainya tahun baru Shio Naga Emas. Saudaranya ada 2, tapi satu persatu mati ketika masih kecil dan belum melek.

Mimit hilang kira-kira tanggal 19 Oktober 2015 yang lalu. Dia memang biasa saya lepas keluar karena memang biasanya selalu pulang sendiri. Terutama kalau lagi lapar dan kecapean main.

Mimit pernah hilang 2 hari, lalu saya cari keliling komplek tidak ketemu. Akhirnya saya cari ke perumahan di belakang komplek, ternyata dia cari betina di situ dan nyasar. Untung ada cat lover juga di situ dan dia simpan di rumahnya. Namanya teh Yanti, orangnya baik dan ramah.

Mimit juga pernah hilang 3 hari, saya langsung cari ke komplek di belakang. Tidak ketemu. Ternyata ketemunya di komplek saya sendiri, lagi main sama kucing kecil, namanya Dudung. Si Dudung ini rupanya merasa aman sama Mimit. Jadi walaupun Dudung takut sama manusia, dia tetap ikut sama Mimit ke rumah. Ini foto untuk mengabadikan persahabatan Dudung dan Mimit.

photo_2015-12-21_23-08-07

Sejak Dudung ikut makan di rumah sama Mimit, badannya jadi gemuk. Tapi entah mengapa si Dudung lama-lama hilang tidak kelihatan lagi, mungkin dia bosan di kampung dan ingin merantau. Saya juga yakin ini pasti Mimit yang meracuni pikirannya supaya merantau. Sebab dia tidak kelihatan sedih karena si Dudung pergi, malah makan makin banyak.

photo_2015-12-21_23-20-17

Mimit sudah menjadi bagian dari keluarga kami sejak dia lahir. Sebetulnya dia kucing yang baik. Tapi nalurinya sebagai predator masih mempengaruhi perilakunya yang primitif. Jadi dia masih bandel, suka kencing di sembarang tempat. Biasanya di pintu, bawah meja, tas ransel saya, atau di barang-barang yang baru dia kenal. Bandel sekali.

Sudah saya semprot dengan larutan cuka apel, wipol, sampai sebar kamper. Tidak berubah juga perilakunya. Hanya bersifat sementara. Padahal di dekat kandangnya sudah ada pasir dan dia memang poop di situ. Tapi kalau kencing, mobil tetangga pun sudah merasakan kehangatan semprotan kencingnya.

Mimit

Si Mimit betah tinggal bersama kami dan tinggal di komplek. Sebab di komplek kami banyak kucing betina dan dia bisa kimpoi dengan siapa saja di antara mereka sepuasnya. Ini si Mimit waktu ketahuan kimpoi sama si Jenifer. Akibat perbuatan mereka ini, maka lahirlah bayi-bayi kucing yang lucu 2 bulan kemudian.

photo_2015-12-21_23-25-44

Kini Mimit sudah 2 bulan meninggalkan rumah dan belum kembali. Saya sudah cari ke mana-mana. Ke komplek perumahan di belakang, di perumahan cigadung valley residence, sampai cari ke pabrik C59. Tidak ada yang lihat.

Bisa jadi Mimit dibawa orang yang tidak dikenal, jadi korban animal trafficking atau perdagangan organ. Bisa jadi Mimit mengejar betina yang disukainya tapi betina itu menolaknya dan penolakan itu membuat Mimit hilang ingatan sehingga Mimit tidak tahu jalan pulang. Bisa jadi Mimit diajak main sama kucing lain, tapi ternyata kucing itu punya niat jahat dan merampoknya sehingga dia tidak punya ongkos untuk pulang ke rumah. Banyak sekali kemungkinannya.

photo_2015-12-21_23-41-51

 

Rumah kami tanpa mimit memang jadi bersih. Tidak ada lagi bau kencing di pintu, di bawah meja, atau di tas ransel saya. Tapi rumah kami jadi sepi. Tidak ada lagi yang lari-lari kalau mobil kami datang. Tidak ada lagi yang ribut mengeong membangunkan orang jam 5 pagi. Tidak ada lagi yang menemani saya kerja malam. Benar-benar terasa hampa.

Jadi saya minta tolong, kalau ada yang tahu di mana Mimit berada, mohon menghubungi saya lewat kontak di bawah ini:

Ilham Rizqi Sasmita
Telepon/SMS/WhatsApp/Telegram: 085862011111

Terima kasih banyak sudah membaca tulisan saya sampai sini.

Mimit, pulang dong ke rumah babeh. 🙁

photo_2015-12-21_23-45-55

Menolak Jadi Hamba Uang

Sebagai pengusaha, sering kita jumpai situasi-situasi yang memaksa kita melakukan korupsi, mendukung korupsi, bahkan terlibat korupsi. Setidaknya dalam bentuk suap-menyuap, memanipulasi nilai penawaran dan lain sebagainya. Meskipun kita tidak ada niat, tidak ada maksud, tapi dijebak masuk ke dalamnya.

Markup/Manipulasi Harga Software

Di tahun 2009, saya dapat pelanggan baru dari Denpasar. Mereka membeli lisensi Voucha 3 sebesar Rp 30 juta. Selain membeli lisensi software mereka juga membeli satu unit server Dell T110 sekitar belasan juta rupiah, saya sudah lupa harga persisnya.

Namun setelah transaksi selesai, contact person mereka meminta supaya nilai invoicenya dimarkup dengan nilai markupnya hampir 100% nilai sebenarnya. Jawaban saya tidak bisa. Saya tetap buatkan invoicenya sesuai nilai transaksinya.

Saya tanya, kenapa harus dimarkup? Ternyata contact person yang melakukan pemesanan ini bukan pemilik usahanya, dia hanya karyawan yang ditugasi owner perusahaan tersebut untuk setup server pulsa di sana. Kebetulan dia juga kawan dekat dengan ownernya tersebut.

Menurut pengakuannya, dia tidak dibayar layak oleh bosnya sehingga cari tambahan dari pembelian seperti ini. Alasan seperti itu saya tetap tidak bisa menerima. Akar masalah dari korupsi markup ini adalah ketakutan dan keserakahan, bukan kekurangan. Saya bukan orang bodoh.

Setan gundul, kawan sendiri dia korupsi!

Dia tetap meminta markup ini berulang kali, padahal saya sudah tolak. Saya jelaskan, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah bom waktu. Pada waktunya nanti akan meledak dan menghancurkan saya dan dia sendiri.

Tanpa perlu dijelaskan seperti itupun harusnya sebagai muslim, dia tahu transaksi tersebut haram sebab tidak mengandung kejujuran. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka selanjutnya, yang penting saya kirim invoice tercetak sesuai nilainya.

Beberapa bulan kemudian, si owner perusahaannya kontak saya dari Denpasar dan memberitahukan dia sudah memecat kawannya tersebut karena telah berbohong mengenai nilai transaksi pembelian software dan hardwarenya. Saya jelaskan, saya sudah diajak kongkalikong dan tegas menolak. Jadi nilai transaksinya sesuai dengan yang kami cetak di invoice dan kami menolak melakukan markup.

Ownernya berkali-kali mengucapkan terima kasih. Mereka bertahan sekitar setahun kemudian sebelum akhirnya bangkrut. Saya dengar dari karyawannya yang bekerja sebagai operator dan rekan-rekannya di sana, banyak kebocoran yang dilakukan orang-orangnya. Padahal modalnya berasal dari pinjaman bank.

Betapa malangnya. Itu baru satu contoh saja. Ada beberapa customer saya yang proses pembeliannya tidak beres seperti ini.

Mengapa saya menolak?

Simpel saja, karena saya benci suap-menyuap, markup, dan sebangsanya. Segitu bencinya sampai saya jijik. Saya ada pengalaman khusus soal ini waktu masih kecil yang membentuk pola pikir dan sikap saya hari ini. Ketika lulus SD dan dalam proses masuk SMP, ada beberapa orang tua teman saya menyogok guru-guru SD dan Kepala Sekolah untuk mendongkrak NEM anaknya. Ini dilakukan terang-terangan di atas meja dan disaksikan orang tua murid lainnya termasuk bapak saya.

Waktu itu NEM belum diumumkan dan mereka punya waktu untuk mendongkrak NEM anaknya. Hasilnya, dua orang anak berhasil masuk SMP favorit dengan NEM didongkrak. Sementara saya sendiri “dibuang” ke SMPN 5 Bekasi (sekarang SMPN 7 Bekasi). Tujuannya supaya tidak bocor mulut. Kalau saya dimasukkan satu sekolah dengan mereka yang didongkrak NEM-nya, bisa terbongkar dong.

Orang tua saya protes kepada pihak sekolah, namun justru diintimidasi dengan didatangi guru kelas juga tentara berseragam. Apa maksudnya? Mau menekan keluarga saya rupanya? Untungnya keluarga saya bukan orang yang mudah ditakut-takuti seperti itu.

Namun usaha kami gagal karena waktu juga yang membatasi. Saya harus segera sekolah dan tidak bisa lama-lama larut dalam persoalan itu. Saya lepaskan perkara tersebut sambil menyimpan kemarahan dan kebencian terhadap mereka yang melakukan suap-menyuap. Kebencian ini rupanya tidak pernah padam dan mendarah daging, meracuni pikiran dan membentuk perilaku saya.

Kalau dibilang, saya ada dendam pribadi dengan perkara suap menyuap, Anda tepat! Tidak perlu menjelaskan panjang lebar, tidak perlu mengajari saya ilmu hukum, saya tahu suap menyuap adalah perkara yang sungguh laknat.

Tak perlu diperdebatkan. Baginda Rasulullah sudah jelas-jelas melaknat pelaku suap.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313)

Godaan

Tapi yang namanya godaan selalu datang. Ketika kita sedang kesulitan, butuh uang cepat, terdesak harus membayar hutang dan cicilan, kok setan ini tahu dan memberikan penawaran yang menggiurkan. Dengan syarat, harganya harus dimarkup.

Saya sendiri bukan orang yang baik-baik juga kok. Justru dosa saya sudah banyak. Ya justru itu, tolonglah jangan ditambah lagi.

Saya bersyukur, sampai hari ini saya bisa menolak tawaran tersebut. Walaupun resikonya saya ngga dapat order. TIdak masalah, yang penting berkah dulu. Setidaknya saya masih tidak tega kalau istri, ibu dan keluarga saya makan uang hasil transaksi markup.

Saya bersyukur, keluarga saya ngga mata duitan. Masih bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Mana yang benar, mana yang salah. Dan ketika kita lemah, mereka yang menguatkan kembali. Bukan menambah godaan.

Memang berat untuk bersetia pada prinsip, tapi selalu layak diperjuangkan. Setidaknya saya sudah menolak tunduk kepada suap-menyuap.

Oleh karena itu, Mari kita Menolak Tunduk jadi Hamba Uang!

Lowongan Web Frontend Developer – Bandung

Lowongan Web Frontend Developer - Bandung

Anda menguasai HTML5, Javascript & CSS? Mampu membuat GUI menggunakan jQuery atau Bootstrap? Sudah terbiasa menggunakan Subversion/Git/Mercurial? Terbiasa menggunakan Linux? Kami sedang membutuhkan beberapa Web Frontend Developer di Bandung. Dapat dikerjakan Remote.

PT Sandiloka adalah perusahaan IT di Bandung yang bergerak di bidang Software Development, Network & Infrastructure. Saat ini kami membutuhkan beberapa Web Frontend Developer untuk ditempatkan pada bulan Desember 2015. Pekerjaan dapat dilakukan secara remote atau Work at Home untuk yang memenuhi syarat.

Setiap calon akan dipanggil untuk mengikuti ujian praktek atau challenge test membuat aplikasi.

  1. Pastikan Anda memang memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang kami butuhkan.
  2. Pastikan Anda terbiasa menggunakan Git, Subversion, Mercurial.
  3. Sertakan screenshot atau demo software/aplikasi yang pernah Anda buat sebelumnya, sebab kualitas hasil pekerjaan Anda sangat besar pengaruhnya dalam pengambilan keputusan kami.

Tanggung Jawab

  1. Mengembangkan aplikasi/project/produk berdasarkan kebutuhan dan spesifikasi yang diminta.
  2. Men-deliver aplikasi/project/produk tepat sasaran, tepat guna, tepat waktu dan biaya.
  3. Melakukan perbaikan terus-menerus.
  4. Memastikan aplikasi/project/produk dapat digunakan oleh user/client.
  5. Ikut mensukseskan aplikasi/project/produk dalam berkompetisi di pasar.

Ruang Lingkup Pekerjaan (Tugas Pokok)

  1. Menulis source code.
  2. Melakukan perbaikan/bug fixing.
  3. Memelihara repository Git.
  4. Mengikuti pertemuan rutin (Sync)

Syarat

  1. Pria/Wanita umur maksimal 30 tahun.
  2. Jujur, Tanggung Jawab, dapat diandalkan.
  3. Pendidikan minimal SMK.
  4. Attitude team player yang baik.
  5. Bersedia bekerja di Bandung.
  6. Bersedia mengikuti pelatihan yang disediakan.
  7. Bersedia belajar mandiri terus menerus, baik teknis maupun non-teknis.
  8. Memiliki laptop sendiri.

Skill Teknis yang dibutuhkan

  1. Problem Solving Skill.
  2. Programming dengan PHP 5.5, HTML5, CSS3, jQuery.
  3. Framework Bootstrap atau jQuery.
  4. Linux (Debian/Ubuntu, Centos/Fedora).
  5. Repository dengan Git/GitHub.

Gaji & Tunjangan

  1. Gaji Pokok.
  2. Tunjangan Transport
  3. Tunjangan Makan
  4. Tunjangan PPh 21 bagi yang memiliki NPWP.
  5. Bonus Tahunan bagi yang berprestasi.

Nilai Tambah yang dipertimbangkan.

  1. Lulusan S1 dari perguruan tinggi yang berkualitas.
  2. Menguasai PHP, Python, Ruby.
  3. Menguasai MongoDB atau database NoSQL lainnya.
  4. Memiliki repository sendiri di GitHub atau BitBucket.
  5. Berkontribusi di dunia open source.

Cara Mengirim Lamaran

  1. Mengisi Formulir Ujian di sini. http://bit.ly/form-developer
  2. Mengerjakan Challenge Test yang diberikan.
  3. Mengikuti Psikotest jika lulus tahap ke-2.

Mohon tidak mengirim berkas apapun jika tidak diminta.

Alamat

PT. Sandiloka

Komplek Dai Chi Kavling 41
Jalan Terusan Jakarta Utara Antapani
Bandung, Jawa Barat 40291
Telepon: 022-87788305

10 Years Lessons Learned from Sandiloka

wirabusaha12

Pada hari Rabu tanggal 30 September 2015, saya menjadi pembicara di acara wiRABUsaha #12 dengan tema “Implementasi Pola Bisnis yang Adaptif Terhadap Dinamika Pasar”. Acara ini diselenggarakan oleh Bandung Digital Valley dan bertempat di Bale Motekar, Jalan Banda No 40 Bandung.

Sesuai tema, maka saya mengambil beberapa pelajaran penting yang saya dapatkan selama lebih dari 10 tahun perjalanan bisnis di PT. Sandiloka. Tentu saja tidak bermaksud menggarami air laut, tapi sekedar berbagi mutiara hikmah sebagai pelajaran.

Slide presentasi acara tersebut dapat dilihat di Slideshare berikut:

Semoga bermanfaat.

Nabung Orang

Tahun 2009, saya begitu tergila-gila dengan sistem. Saya percaya, dengan sistem yang baik dan benar, maka perusahaan saya dapat tumbuh besar. Oleh karena itu semua tindakan saya muncul dari semangat melakukan perubahan sistem dan perbaikan sistem.

Landasannya jelas. Singapura menjadi negara maju karena dia punya sistem yang baik. Beberapa BUMN besar di negeri ini juga bisa bangkit dan maju karena melakukan perbaikan sistem. Yang membedakan perusahaan maju dengan perusahaan tradisional juga SISTEM.

Jadi kalau kita melakukan perbaikan sistem, maka perusahaan kita juga makin baik. Betul?

Yak! Salah!

Saya mulai bekerja dengan merapikan keuangan. Pelajaran akuntansi yang menjadi pelajaran menyebalkan waktu SMA, saya telan juga. DEMI PERBAIKAN SISTEM! Dibantu mentor yang handal dan senior, jadilah laporan keuangan saya dalam waktu 2 minggu.

Kemudian saya juga membuat S.O.P untuk semua bagian. Karena setelah dipelajari, banyak potensi kebocoran yang ditimbulkan akibat tidak adanya S.O.P. Oleh sebab itu saya membuat S.O.P untuk bagian-bagian yang vital.

Tahun berikutnya saya mempelajari bagaimana membuat metrics dan KPI (Key Performance Indicator). Bayangkan, perusahaan masih kecil tapi sudah punya KPI. Menurut saya waktu itu, keren banget. Hampir semua bagian dibuatkan metricsnya dan dibuatkan KPI-nya. Sampai software development saya buatkan KPI-nya (baca: lebay)

Landasannya jelas. Apa yang tidak bisa kita ukur, tidak bisa kita kelola atau perbaiki. Begitulah kata para pakar manajemen.

Struktur gaji pun disesuaikan. Tadinya belum mengikuti aturan, disesuaikan mengikuti aturan. Ada struktur gaji menggunakan prinsip 3P: Pay for Person, Pay for Position, Pay for Performance. Saya juga sempat belajar dan bikin Salary Structure dengan model Hay. Keren banget lah pokonya (baca: belagu)

Intinya, melakukan perbaikan sistem supaya perusahaan ini bisa maju.

Tapi apa yang terjadi hasilnya bertolak belakang. Revenue terus menurun tanpa bisa dikendalikan. Program promosi dan penjualan yang disarankan oleh business coach dari firma coaching ternama tidak membantu. Karyawan tidak menjalankan S.O.P dan tidak menunjukkan kinerja yang diharapkan. Padahal gaji sudah naik dan menurut standar kota Bandung waktu itu, gaji kami termasuk tinggi.

Banyak sasaran perusahaan tidak tercapai. Karyawan tidak happy. Apalagi saya. Akhirnya, tingkat stress dalam pekerjaan makin tinggi. Waktu itu hampir tiap hari saya sakit kepala dan minum obat pereda rasa sakit. Tadinya migrain sebelah kiri, besoknya migrain sebelah kanan, besoknya lagi migrain sebelah belakang. Pundak pun sering nyeri. Seluruh tubuh saya protes.

Apa yang salah?

Suatu hari satu-persatu karyawan saya mengundurkan diri. Saya tidak bisa mencegahnya. Di satu sisi, saya membutuhkan bantuan. Di sisi yang lain, kami juga sedang kesulitan keuangan untuk membayarnya. Akhirnya saya lepaskan.

Lalu saya mulai merekrut orang-orang baru namun jumlahnya lebih sedikit karena mempertimbangkan kemampuan keuangan. Ada yang bertahan 3 bulan masa percobaan, ada yang tidak lolos. Karena posisi yang dibuka lebih sedikit, otomatis saya lebih hati-hati dalam memilih.

Mulai terasa dampaknya. Stress akibat pekerjaan mulai berkurang satu persatu. Sudah jarang sakit kepala.

Pola rekrutmen pun akhirnya saya ubah total. Tidak lagi mengikuti apa yang diajarkan oleh para konsultan HR di training-training berbiaya mahal di hotel berbintang. Saya merancang proses rekrutmen itu sendiri. Saya tidak mengatakan apa yang diajarkan itu salah. Hanya saja, saya menyadari pola yang diajarkan tidak relevan lagi dengan problem yang kita hadapi saat ini.

Proses rekrutmen ini cukup berhasil untuk mendapatkan orang-orang yang saya butuhkan. Orang yang jujur, kompeten, bisa diandalkan. Satu persoalan yang tidak bisa dipecahkan dengan pola rekrutmen lama ala pabrik dan perusahaan asing.

Di sinilah saya menyadari letak kesalahan dan kegoblokan saya selama ini. Saya hanya fokus memperbaiki sistem, tapi tidak punya orang yang tepat. Sementara mereka yang berhasil membuat perusahaannya maju ternyata polanya sama, dimulai dengan merekrut orang-orang yang tepat.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Fiqh Prioritas, ternyata sudah menulis bahwa Perbaiki Diri sebelum perbaiki sistem. Anda bisa membacanya di sini. http://media.isnet.org/kmi/islam/Qardhawi/Prioritas/PerbaikiDiri.html

Kita tidak bisa memperbaiki sistem kalau orang-orangnya tidak bisa diperbaiki. Sebab sistem dijalankan oleh orang, tidak bisa jalan sendiri. Simpel, lugas dan masuk akal.

Bagaimana bisa menjalankan S.O.P, kalau orang-orangnya tidak jujur? Yang ada malah diakali. Bagaimana program-program kerja bisa tercapai sasarannya, kalau orang-orangnya munafik, conflict of interest dan punya obyekan sendiri? Bagaimana kita bisa mewujudkan service excellence kalau orang-orangnya ngga kompeten?

Ngimpi! 😀

Lupakan saja ajakan orang tentang bisnis yang bisa autopilot. Kalau mau, Sergey Brin dan Larry Page sudah meninggalkan Google dan menikmati passive income dari perusahaannya. Kalau mau, Bill Gates sudah meninggalkan Microsoft tahun 80-an dan menikmati passive income. Nyatanya tidak.

Dalam bukunya, EXECUTION, Larry Cassidy & Ram Charan juga menyorot bahwa strategi tidak pernah salah. Eksekusilah yang salah kalau perusahaan gagal mencapai sasaran. Eksekusi ini ya orang, bukan siapa-siapa. Pantesan banyak strategi kami ngga bisa jalan. Gimana bisa jalan kalau orang-orangnya susah diatur?

Ternyata apa yang kita pelajari dari lembaga tranining yang mahal dan kantornya di gedung yang mewah itu belum tentu benar, belum tentu relevan. Bahkan kemungkinan besar, problem yang kita hadapi jauh lebih kompleks dari pada yang diajarkan. Mulai saat itu saya mulai evaluasi kembali apa yang selama ini saya pelajari. Pemikiran dan metode yang sudah usang, saya buang. Pemikiran baru yang penuh terobosan dan relevan, saya ambil. Tidak peduli itu diakui.

If it works, it works!

Mulai saat itu, tepatnya tahun lalu, saya mulai dengan merekrut orang-orang yang tepat. Jika dia jujur, kompeten, punya kepakaran yang dibutuhkan, loyal, bisa diandalkan, maka saya rekrut. Walaupun kerjaanya belum ada.

Istilah saya, nabung orang. Yang penting kami punya orang yang tepat dulu. Kalau sudah punya orang yang tepat, mau pakai strategi A, B, C, D, E, bisa kita jalankan. Apapun kondisinya. Kalau dulu kan terbalik. Saya nabung uang supaya strategi bisa jalan. Akhirnya ujung-ujungnya duit, budget dan biaya. Yang pada kenyataannya, uang tidak mengatasi masalah. Orang yang mengatasi masalah, bukan uang.

Dengan orang yang jujur, saya merasa nyaman untuk berbagi visi dan values yang saya simpan selama ini. Dengan orang yang bisa diandalkan, saya merasa percaya diri problem bagaimanapun sulitnya bisa kita atasi. Dengan orang yang kompeten, saya merasa optimis, kami bisa sampai di tujuan dengan selamat. Dengan orang yang loyal, saya merasa tenang untuk memberikan amanah.

Hal-hal seperti itu tidak saya dapatkan sebelumnya. Yang ada adalah khawatir, was-was, kecewa, marah, stress, sakit kepala, sakit pundak, sakit badan.

Oleh sebab itu Saya bersyukur sempat menyadari kesalahan itu. Saya bersyukur, masih ada kesempatan luas untuk melakukan perbaikan. Saya ingin orang lain juga mendapatkan pencerahan yang sama. Jangan sampai mengulang kegoblokan yang pernah saya lakukan.

Sekarang kamu catat ini baik-baik:

Man behind the gun is more important than the gun itself

Paham?!

Semoga bermanfaat. Selamat bekerja, dan jangan lupa bersenang-senanggg…

Magang & PKL di Sandiloka

Tulisan ini saya buat untuk para siswa/siswi SMU/SMK dan juga mahasiswa/mahasiswi yang ingin tahu lebih banyak tentang magang dan PKL di Sandiloka. Saya buat seperti FAQs, supaya lebih to the point.

Ini perusahaan apa?

PT. Sandiloka adalah perusahaan teknologi berbasis IT yang menyediakan jasa dan produk berupa aplikasi, infrastruktur dan sistem pembayaran.

Jurusan apa saja?

Kami menerima bimbingan PKL & Magang untuk siswa & siswi SMK jurusan RPL, TKJ & Multimedia. Lebih dipilih yang sudah kelas 3. Anak kelas 2 sebaiknya jangan magang dulu sebab biasanya belum siap. Belum bisa diarahkan untuk ini itu, nanti ujung-ujungnya malah disuruh-suruh beli gorengan, kirim barang, dan pekerjaan kasar lainnya. Buat apa?

Untuk mahasiswa, hampir semua jurusan sains/engineering dapat magang di sini. Sebab pada dasarnya pekerjaan kami tidak jauh dari sains & engineering.

Mengapa di Sandiloka?

Selain nilai, ada beberapa kelebihan yang bisa kamu pertimbangkan yaitu bimbingan dari orang-orang yang baik dan ekspert di bidangnya, tempat kerja dengan suasana yang baik, dan topik/pekerjaan yang menarik. Kamu bisa saja magang di perusahaan lain yang jauh lebih besar, tapi belum tentu kamu menemukan kombinasi yang bagus seperti itu.

Mengapa TIDAK di Sandiloka?

Beberapa alasan sebaiknya kamu jangan magang di Sandiloka yaitu jika kamu merasa sudah pintar/jago di bidang yang kamu tekuni, jika kamu tidak terbiasa belajar mandiri dan disiplin, jika kamu sangat manja dan tergantung bantuan orang lain, jika kamu mudah menyerah dan gampang mengeluh.

Kalau kamu mulai malas-malasan, kamu bisa kembali ke sekolah hari itu juga.

Pekerjaan/magang seperti apa yang akan saya hadapi?

Pada dasarnya semua pekerjaan yang kami lakukan adalah problem solving, mengatasi sebuah masalah yang nyata. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, kami mengkombinasikan berbagai macam kemampuan yaitu programming, networking, design, bahkan leadership.

Kamu bisa mengambil bagian dalam bentuk membuat aplikasi desktop, web maupun mobile. Jika kamu tertarik dengan infrastruktur, kamu bisa mengeksplorasi atau mempelajari infrastruktur yang kami gunakan antara lain: router, web server, firewall, load balancer, dll.

Jika kamu dapat menunjukkan bahwa kamu seorang team player yang baik dan mampu mendeliver hasil kerja yang baik pula, kemungkinan besar kamu bisa direkrut menjadi salah satu tim di Sandiloka.

Mengapa kantornya kecil & lokasinya di perumahan?

Kantornya kecil karena orangnya sedikit dan sesuai budget. Sebagai perusahaan rintisan, kami memang tidak membutuhkan tempat yang besar. Kami lebih suka bekerja di mana saja yang tempatnya nyaman dan tenang.

Kalau saya berminat magang, caranya bagaimana?

Caranya cukup mengisi formulir dulu, di http://bit.ly/form-magang

Jika kami tertarik dan kapasitasnya masih memungkinkan, kamu akan dihubungi lewat email atau handphone.

Tiga Pilihan untuk Inovator Indonesia

Bagi kita yang bergerak di bidang teknologi, pasti dekat dengan inovasi. Setiap waktu ada terobosan baru atau perbaikan baru. Bisa dalam bentuk perbaikan proses, peningkatan produktifitas tapi yang jelas inovasi tersebut MENGATASI MASALAH.

Saya melihat di negeri kita ini seorang inovator punya 3 posisi pada saat harus berhadapan dengan situasi di negeri ini.

  1. Problem Solver/Mengatasi Masalah
  2. Pro-Penguasa
  3. Halal/Berkah

Tapi kita hanya bisa ambil 2 dari 3. Maka pilihan yang tersedia ada 3:

1. Problem Solver & Pro-Penguasa, tapi tidak Halal & Berkah

Pilihan ini sering diambil oleh pengusaha yang cari proyek. Yang penting duit masuk. Punya produk, punya modal, punya power. Tidak peduli itu harus nyogok anggota dewan, nyogok bupati/kepala daerah, suap kepala dinas, merampok/markup anggaran, kongkalikong dengan panitia lelang, beli Undang-Undang, beli Perda, dan lain sebagainya. Tidak peduli uang masuk dari bisnis riba, cuci uang haram, dan lain sebagainya.

2. Pro-Penguasa & Halal/Berkah tapi tidak mengatasi masalah, bukan Problem Solver

Pilihan ini diambil oleh banyak orang. Yang penting aman. Walaupun produk atau karya yang dihasilkan biasa-biasa saja, tidak mengatasi masalah yang ada di masyarakat.

3. Problem Solver & Halal, tapi tidak Pro-Penguasa

Ini pilihan sulit. Produknya atau karyanya inovatif, penuh terobosan, dapat mengatasi masalah, uangnya halal tapi dibenci penguasa. Dalam arti yang lain, dibenci penguasa adalah dikriminalisasi, dikejar-kejar penegak hukum bayaran, melanggar regulasi (juga bayaran), atau melanggar Undang-Undang (bayaran). Jika tidak sampai dikriminalisasi, biasanya digencet dengan aturan yang aneh-aneh.

Ini bisa kita lihat pada waktu pertama kali VOIP muncul akhir tahun 1990an. Lalu penggunaan frekuensi 2,4Ghz untuk internet. Dan sekarang mobil listrik. Dalam situasi di mana UU bisa dibeli, regulasi bisa dibeli, polisi bisa dibayar, penegak hukumnya budak uang, integritas dijual murah, mau tidak mau Anda terpaksa menjadi ‘outlaw’, seorang pelanggar hukum.

Nah, Anda ada di posisi yang mana?

Bangsa yang tidak terbiasa TERTIB

Ada satu customer saya yang tidak terbiasa tertib, dia mengalami kerusakan data pada databasenya akibat shutdown yang tidak benar atau mati listrik. Kejadian ini berulang-ulang hampir tiap 2 minggu sekali. Padahal tinggal pasang UPS dan jalankan prosedur maintenance yang benar.

Ada satu customer saya yang lain, dia sering mengalami fraud internal yang dilakukan anak buahnya. Modusnya pun sama. Dan kejadian ini berulang, tidak hanya satu kali. Padahal tinggal buat prosedur untuk proses penerimaan uang, penambahan saldo dan laporan. Kalau orangnya ngga mau jalankan, ya ganti orang.

Satu customer saya yang lain sering melakukan salah transfer (salah jumlah, salah berita) sehingga invoicenya tidak terproses secara otomatis. Transfernya pun dilakukan di hari libur atau tengah malam, di mana pada waktu tersebut, kita belum bisa mengecek dana yang masuk ke rekening. Padahal tinggal buat jadwal kapan harus transfer pembayaran.

Ketika saya sedang mengendarai sepeda motor saya berpikir, mengapa pengendara sepeda motor (termasuk saya) suka ugal-ugalan. Perilaku ugal-ugalan ini bukan hanya ditunjukkan oleh laki-laki, tapi juga ibu-ibu. Padahal rambu-rambu lalu-lintas banyak, polisi juga ada, tapi hampir semua marka jalan dan rambu lalu-lintas itu dilanggar. Jangankan dalam pandangan pengendara mobil, sesama pengendara motor saja sebal melihatnya 😀

Dalam kesempatan lain, ketika saya sedang mengantri tiket commuter line, tiba-tiba seseorang menyerobot langsung ke depan loket tanpa mengantri. Dan herannya sama kasirnya pun dilayani. Kalau begitu buat apa saya mengantri, kalau bisa menyerobot? Mengapa orang-orang ini tidak mau mengantri? Bukankah nanti naik keretanya bareng?

Dalam kasus lainnya, saya mulai mentertibkan proses bisnis di kantor dengan membuat S.O.P (Standard Operation Procedure). Tujuannya jelas, memastikan proses berjalan dengan benar dan tepat sasaran. Bermodal pengetahuan dari trainer, saya bikin S.O.P yang simpel, dan urutan langkahnya paling banyak 7 langkah. Supaya semua orang bisa mengikuti. Ada prosedur untuk penerimaan uang, prosedur pengajuan dana, prosedur maintenance, troubleshooting, software development dan lain sebagainya.

Ternyata walaupun sudah dibikin mudah, tidak semua orang mau mengikuti. Hanya sebagian kecil saja dan lucunya, justru karyawan baru yang mau mengikuti. Karyawan lama cenderung menolak.

Nah di sinilah saya sampai pada pemikiran bahwa kebanyakan orang itu tidak terbiasa tertib, tidak mau mengikuti sebuah sistem, tidak terbiasa menghormati aturan. Akibatnya jelas, banyak kekacauan, kebocoran, penggelapan, korupsi, dan masalah-masalah sosial lainnya. Masalah ini berulang, menular, menyebar, dan meluas dampaknya.

Padahal dalam pelajaran sholat wajib 5 waktu saja, ada rukun sholat. Dan yang paling menarik dari setiap rukun itu adalah rukun terakhir yaitu TERTIB. Tertib yang dimaksud adalah sesuai urutan, tidak boleh sujud dulu baru ruku. Dan tertib yang lainnya adalah mengikuti aturan. Harus menghadap kiblat, bukan menghadap kebun misalnya. Kalau tidak tertib, jelas tidak sah sholatnya dan harus diulangi.

Bagaimana dengan aktifitas sehari-hari? Mengapa orang tidak mau tertib? Bukankah aktifitas sehari-hari juga termasuk ibadah atau kesempatan melakukan pekerjaan sebaik-baiknya?

Mari bandingkan dengan bangsa lain yang sudah bisa membuat mesin, mobil, pesawat terbang, roket, pesawat ulang-alik, robot dan penemuan-penemuan lainnya. Lihatlah bagaimana kemampuan mereka untuk tertib, mengikuti sebuah sistem, disiplin menjalankannya telah membuat bangsa mereka naik kelas beberapa derajat lebih tinggi.

Di sinilah saya menemukan bahwa negara kita ini terlalu banyak menghambur-hamburkan dana untuk membuat peraturan, undang-undang, prosedur, sistem, namun lupa membangun dan memperbaiki manusianya. Padahal inti masalahnya itu ada di manusia yang tidak mau mengikuti aturan, tidak terbiasa tertib, tidak mau menjalankan sebuah sistem.

Semoga saya termasuk orang yang tertib. Amiiin….

 

Bersyukur untuk hal-hal yang tidak bisa dipilih

Minggu-minggu ini saya telah sampai pada pemikiran, setiap hal yang tidak bisa saya pilih itu harus disyukuri. Kita lahir ke dunia ini bukan keinginan kita sendiri, apakah ada yang minta dilahirkan?

Kita tidak bisa memilih lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Lahirnya dari suku bangsa apa, dari orang tua yang mana, di mana, tanggal berapa, jam berapa.

Kita tidak bisa memilih apakah kita lahir dengan tubuh yang sempurna atau cacat, mata yang sipit atau besar, kulit yang putih atau hitam. Otak yang cerdas atau kurang cerdas.

Bahkan kita tidak bisa memilih jantung kita harus berhenti atau tidak. Darah kita mengalir atau tidak. Ginjal kita berfungsi atau tidak.

Namun, coba lihat betapa beruntungnya keadaan kita sekarang. Kita lahir dengan tubuh yang baik, sempurna, sehat tidak kurang apapun. Kita lahir sebagai bangsa yang merdeka dan damai. Bayangkan bagaimana menderitanya jika lahir sebagai bangsa yang diperbudak/dijajah atau sedang berperang.

Kita lahir dengan jantung yang bekerja terus menerus tanpa diperintah. Ginjal, hati, pankreas, lambung, usus yang bekerja tanpa diperintah. Bayangkan betapa repotnya kalau seluruh organ tersebut hanya bekerja jika diperintah oleh otak?

Kita lahir dari orang tua yang menginginkan dan menanti-nanti kita sejak dalam kandungan. Bayangkan betapa malangnya bayi-bayi yang dibuang oleh bapak-ibu yang tidak menginginkannya.

Di sini kita baru sadar bahwa apa yang tidak bisa kita pilih itu, ternyata diberikan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tidak ada kata yang pantas diucapkan selain Alhamdulilah.

Lalu bagaimana dengan hal-hal yang bisa kita pilih? Apakah kita bisa memilih teman yang baik? Apakah kita bisa memilih keputusan yang baik? Apakah kita bisa memilih sekolah yang baik? Apakah kita bisa memilih pasangan yang baik?

Belum tentu, bukan?

Apakah keputusan kita itu bisa lebih berkualitas dari pada yang tidak bisa kita pilih?

Saya akui, saya sendiri sering membuat keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan yang buruk. Salah pilih teman, salah pilih rekanan, salah rekrut orang, salah pilih barang, banyak sekali kesalahan yang tidak bisa dihitung.

Dan memang begitulah manusia. Sebagus apapun keputusannya, ada saja masalahnya, ada saja celanya, ada saja kekurangannya, ada saja keburukannya.

Oleh sebab itu, mari kita bersyukur atas apa-apa yang tidak bisa kita pilih namun diberikan dengan kondisi sangat baik. Dan kalau begitu, sebaiknya kita kembalikan apa yang sudah kita putuskan kepada Allah semata. Jika keputusan kita baik, mohon dimudahkan. Jika keputusan kita salah, mohon digagalkan dan dimaafkan.