Monthly Archives: June 2015

Tiga Pilihan untuk Inovator Indonesia

Bagi kita yang bergerak di bidang teknologi, pasti dekat dengan inovasi. Setiap waktu ada terobosan baru atau perbaikan baru. Bisa dalam bentuk perbaikan proses, peningkatan produktifitas tapi yang jelas inovasi tersebut MENGATASI MASALAH.

Saya melihat di negeri kita ini seorang inovator punya 3 posisi pada saat harus berhadapan dengan situasi di negeri ini.

  1. Problem Solver/Mengatasi Masalah
  2. Pro-Penguasa
  3. Halal/Berkah

Tapi kita hanya bisa ambil 2 dari 3. Maka pilihan yang tersedia ada 3:

1. Problem Solver & Pro-Penguasa, tapi tidak Halal & Berkah

Pilihan ini sering diambil oleh pengusaha yang cari proyek. Yang penting duit masuk. Punya produk, punya modal, punya power. Tidak peduli itu harus nyogok anggota dewan, nyogok bupati/kepala daerah, suap kepala dinas, merampok/markup anggaran, kongkalikong dengan panitia lelang, beli Undang-Undang, beli Perda, dan lain sebagainya. Tidak peduli uang masuk dari bisnis riba, cuci uang haram, dan lain sebagainya.

2. Pro-Penguasa & Halal/Berkah tapi tidak mengatasi masalah, bukan Problem Solver

Pilihan ini diambil oleh banyak orang. Yang penting aman. Walaupun produk atau karya yang dihasilkan biasa-biasa saja, tidak mengatasi masalah yang ada di masyarakat.

3. Problem Solver & Halal, tapi tidak Pro-Penguasa

Ini pilihan sulit. Produknya atau karyanya inovatif, penuh terobosan, dapat mengatasi masalah, uangnya halal tapi dibenci penguasa. Dalam arti yang lain, dibenci penguasa adalah dikriminalisasi, dikejar-kejar penegak hukum bayaran, melanggar regulasi (juga bayaran), atau melanggar Undang-Undang (bayaran). Jika tidak sampai dikriminalisasi, biasanya digencet dengan aturan yang aneh-aneh.

Ini bisa kita lihat pada waktu pertama kali VOIP muncul akhir tahun 1990an. Lalu penggunaan frekuensi 2,4Ghz untuk internet. Dan sekarang mobil listrik. Dalam situasi di mana UU bisa dibeli, regulasi bisa dibeli, polisi bisa dibayar, penegak hukumnya budak uang, integritas dijual murah, mau tidak mau Anda terpaksa menjadi ‘outlaw’, seorang pelanggar hukum.

Nah, Anda ada di posisi yang mana?

Incoming search terms: