Monthly Archives: November 2012

Cashflow Orang Miskin vs Orang Kaya

Orang Kaya digambarkan dengan orang yang memiliki jumlah asset yang besar, baik itu berupa uang, logam mulia, tanah, bangunan, surat berharga, saham, dan lain-lain. Sementara Orang Miskin digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki asset atau assetnya sedikit.

Problemnya, orang meyakini bahwa untuk menjadi orang kaya harus memiliki penghasilan yang besar, gaji yang besar, kedudukan yang tinggi, dan sebagainya. Penghasilan hanya salah satu faktor. Jika penghasilan kita besar, kita memiliki PELUANG lebih besar untuk kaya dibandingkan jika kita memiliki penghasilan yang kecil. Hanya sebuah PELUANG. Jadi masih ada kemungkinan kita akan tetap miskin, walaupun penghasilan kita besar.

Faktor utama yang lebih berperan penting adalah Cashflow, arus kas sebab menggambarkan PERILAKU, atau apa yang kita LAKUKAN dengan penghasilan tersebut. Bukan penghasilan besar yang membuat orang menjadi kaya, tapi apa yang dilakukan dengan penghasilan tersebut.

Cashflow Orang Miskin

Orang Miskin dan semua yang akan menjadi miskin memiliki perilaku seperti ini jika mendapatkan penghasilan:

  1. Mengeluarkan uang untuk menutupi biaya
  2. Menabung, jika ada sisanya.

Persamaannya:

Gaji – Biaya = Menabung

Mengapa ini membuat miskin? Sebab, hal pertama yang dilakukannya adalah menutupi biaya. Biaya ini bisa terbagi dua, biaya hidup dan biaya gaya hidup. Biaya hidup itu terbatas  sebab kebutuhan kita itu ada batasnya. Makan, minum, transport, bahan bakar, listrik, telepon, itu ada cukupnya.

Tapi biaya gaya hidup tidak terbatas, tidak ada cukupnya. Waktu gaji masih Rp 1 juta perbulan, kita cukup makan di Warteg sudah kenyang. Tapi ketika gaji sudah Rp 2 juta perbulan, kita maunya makan di restoran atau kafe, dan harganya lebih mahal. Handphone pun ganti, maunya pakai Smartphone. Ketika naik gaji lagi menjadi Rp 5 juta perbulan, restorannya pun ganti, handphonenya ganti, sepatunya ganti, kendaraannya ganti.

Makin besar penghasilan, makin besar biaya gaya hidupnya. Waktu gajinya kecil, tidak menabung. Ketika gajinya besar pun, tidak menabung. Sebab calon orang miskin memang tidak begitu sadar menabung. Karena tidak menabung, rentan mengalami resiko. Pada saat membutuhkan dana besar, tidak siap. Sehingga harus berhutang.

Cashflow Orang Kaya

Orang Kaya dan semua yang akan menjadi orang kaya memiliki perilaku seperti ini jika mendapatkan penghasilan:

  1. Melakukan investasi
  2. Menabung
  3. Mengeluarkan biaya hidup

Sehingga persamaannya:

Gaji – Investasi – Menabung = Biaya Hidup

Invest di depan, menabung di depan, sisanya buat biaya hidup. Investasi berarti mengambil resiko, berspekulasi, supaya terjadi akumulasi modal/asset. Makin besar akumulasi modal yang diharapkan, makin besar pula resiko kehilangannya. Menabung untuk dana talangan jika terjadi resiko atau harus mengeluarkan dana besar, tidak sampai mengganggu kebutuhan hidup apalagi sampai berhutang.

Makin besar penghasilan, makin besar yang diinvestasikan atau ditabung. Gaya hidup sewajarnya saja. Itu bedanya dengan calon orang miskin.

Orang Kaya atau Calon Orang Kaya melakukannya karena punya VISI. Tanpa VISI, tidak mungkin punya RENCANA. Tanpa rencana, tidak mungkin punya kesadaran harus invest dan menabung.

Oleh sebab itu sebelum memperbaiki cashflow, sebaiknya perbaiki dulu VISI jangka panjangnya. Mau seperti apa dalam 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun mendatang. Lalu sesuaikan perilaku keuangan seperti apa yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Tanpa perilaku tersebut, orang yang sudah kaya akan jatuh miskin. Tapi, orang yang sudah miskin akan menjadi kaya jika melakukan investasi dan menabung. Investasi yang paling sederhana adalah menumbuhkan diri sendiri, memperbaiki diri sendiri sehingga pada saat diberi kesempatan menerima penghasilan yang lebih besar, sudah siap untuk digunakan untuk membangun kekayaan.

Jika untuk diri Anda sendiri saja, Anda tidak mau invest, apalagi saya? Apalagi orang lain?

Incoming search terms: