Cashflow & Resiko Membuat Produk

Pada tulisan saya yang berjudul 5 Jenis Bisnis Berdasarkan Cash Flow saya menjelaskan bahwa cashflow yang kami jalankan adalah cashflow bulanan. Perlu dicatat bahwa cashflow bulanan itu baru terjadi ketika produknya sudah ada, sudah layak pakai, sudah diterima oleh pasar atau konsumen. Sehingga konsumen atau mitra pengguna mau membayar. Kalau produknya belum diterima oleh pasar, tentu tidak ada yang mau membayar dan tidak terjadi cashflow bulanan.

Bagaimana ketika produk belum jadi atau sedang dalam proses pengembangan?

Jelas tidak ada income, tidak ada profit, tidak ada cash yang masuk. Sebab tidak ada pembayaran yang masuk dan bisa diakui sebagai pendapatan.

Jika waktu proses pengembangan ini cepat, dan produk bisa diterima oleh pasar, cash akan cepat masuk. Namun jika proses pengembangan ini lambat, banyak bug, dan ditolak oleh pasar, cash lambat masuk bahkan bisa jadi tidak pernah masuk. Kalau sudah begini, perusahaan mengalami kerugian karena cashflownya negatif. Kalau mau tetap diteruskan, harus disuntik modal tambahan atau pinjam uang dari luar.

Artinya cashflow ketika melakukan pengembangan produk itu bukan bulanan, tapi tahunan bahkan 2-3 tahunan. Uang yang dikeluarkan pada saat awal pengembangan produk mungkin baru bisa mengalir kembali masuk setelah 2 atau 3 tahun lagi. Anda siap rugi selama 2 sampai 3 tahun?

Perusahaan besar seperti Coca Cola itu sanggup mengalami kerugian selama 10 tahun. Tidak mencetak profit sama sekali. Mulai tahun ke-11 baru mendapatkan profit. Kalau perusahaan kecil seperti saya, bisa kuat rugi selama 1 tahun saja sudah bagus 😀

Itulah resiko yang harus ditempuh pengusaha pada saat membuat sebuah produk. Sangat berbeda dengan pedagang. Kita harus invest di depan, harus spend money dulu di depan, dan belum tentu berhasil. Sudah berhasil diterima pun masih ada resiko yang lain yaitu pembajakan, pasar yang makin surut, kompetisi dalam perang harga, dll. Syukur Alhamdulilah kalau berhasil. Bagaimana kalau tidak berhasil? Bagaimana kalau rugi? Akibatnya jelas, uang yang diinvestasikan hangus tidak bisa kembali.

Untuk menghadapi resiko tersebut, kita sebagai pengusaha perlu menguasai sedikit teknik-teknik mengelola resiko antara lain:

  1. Risk transfer: memindahkan resiko ke pihak lain dengan membayar sejumlah biaya.
  2. Risk sharing: berbagi resiko dengan pihak lain dengan imbalan bagi hasil. Kalau untung, kita bagi untung. Kalau rugi, kita bagi rugi 😀
  3. Risk Avoidance: mengabaikan resiko tersebut kalau memang tidak begitu penting.
  4. Risk Retention: jika effort dalam mengelola resiko itu lebih besar atau lebih mahal dari nilai kerugian yang ditimbulkan, lebih baik baik terima resikonya.
  5. Risk Reduction. Mengurangi peluang terjadinya kegagalan dan kerugian dengan menggunakan metode yang tepat, proses yang benar, dan orang yang tepat.

Tidak ada teknik yang paling tepat jadi kita harus tahu kapan menggunakannya. Kapan waktu yang tepat untuk memindahkan resiko, kapan waktu yang tepat untuk berbagi resiko dan kapan waktu yang tepat untuk mengabaikannya sama sekali. Tapi soal menghadapi resiko ini lebih baik saya buat tulisan sendiri saja yang terpisah.

Mengurangi Resiko

Dengan resiko yang cukup besar, karena harus ngga enak di depan, sebagian besar developer tentu akan lebih memilih mengerjakan proyek. Sebab dalam mengerjakan proyek, ada sejumlah kepastian bahwa software memang akan diterima oleh client, ada sejumlah kepastian bahwa cash akan masuk setelah pekerjaan selesai. Apalagi sebelum proyek dimulai, client biasanya diwajibkan membayar Down Payment sebagai tanda komitmen. Enak sekali dibandingkan dengan membuat produk.

Oleh sebab itu, untuk menekan resiko, supaya proses pengembangan produk itu cukup ‘aman’ maka langkah persiapan yang bisa kita lakukan adalah:

  1. Memiliki cadangan cash yang cukup untuk 3x masa pengembangan. Jika masa pengembangan itu 1 tahun, maka pastikan kita punya cadangan cash untuk 3 tahun. Atau hitung perkiraan biaya yang diperlukan untuk pengembangan, kemudian kalikan dengan 3. Jika tahap pertama gagal, masih ada kesempatan dan dana yang cukup untuk melakukan perbaikan supaya diterima oleh pasar. Kalau masih gagal juga sampai 3x, itu tandanya kita ngga cocok bikin produk atau belum beruntung.
  2. Subsidi silang dari proyek. Jika pekerjaan membuat proyek memang banyak dan profitnya cukup besar, kita bisa gunakan profit dari proyek untuk digunakan dalam pengembangan produk. Ini praktek yang cukup lazim seperti melakukan diversifikasi usaha.
  3. No Work No Pay. Biaya untuk membayar gaji programmer di depan itu biasanya cukup besar namun tidak menjamin kualitas pekerjaannya bagus. Kalau ternyata kualitasnya jelek, produknya direject oleh QA karena banyak bug, produknya tidak diterima pasar karena tidak stabil, maka perusahaan yang menanggung semua kerugian. Ini tidak fair. Oleh sebab itu bayar programmer kalau proyek sudah selesai atau setiap mencapai progres tertentu. Tentu saja harus bayar tepat waktu, saya tahu rasanya dibayar telat itu sangat menyedihkan.
  4. Kontrak yang detil dan jelas. Hampir semua masalah dalam pembuatan software itu disebabkan oleh cacat komitmen. Oleh sebab itu dalam setiap proyek dan pengembangan produk, buat kontrak yang detil dan jelas. Kalau salah satu melanggar kontrak, akibatnya adalah berhadapan dengan penegak hukum. Sudah pakai kontrak yang aturan main dan sanksinya jelas saja, banyak orang yang suka mangkir. Apalagi kalau tidak ada kontrak, tidak ada aturan main dan sanksi yang jelas?

Satu hal yang perlu hati-hati adalah proses rekrutmennya. Jangan pernah asal-asalan dalam merekrut programmer baik untuk proyek maupun untuk membuat produk. Salah rekrut akibatnya fatal, produk atau proyek bisa mangkrak, dimaki-maki oleh client/mitra pengguna, bahkan bisa dituntut ke pengadilan. Percaya deh, tidak enak sama sekali.

Demikian sharing saya kali ini mengenai pengembangan produk, siapa tahu Anda punya pengalaman serupa dan pelajaran yang lebih baik lagi.

Semoga bermanfaat.

Incoming search terms: