Sudah Kaya Kok Masih Jualan Sendiri?

Kalau belom punya apa-apa, masih merintis bisnis, kita jualan keliling sendiri udah ngga aneh dong ya. Justru harus namanya. Tapi kalau sudah kaya, serba berkecukupan, usahanya sudah besar, tapi masih turun langsung jualan sendiri, aneh nggak? Ngapain jualan sendiri, apa masih kurang? Ngga ada orang lain lagi yang bisa disuruh?

Ada tetangga saya di Bekasi dekat rumah, mereka keluarga kaya. Sang bapak punya bisnis tambang pasir dan bahan bangunan, istrinya juga anak juragan sembako. Dua-duanya lulusan luar negeri. Anak-anaknya masih kecil. Kamu tahu dong seperti apa kayanya juragan bahan bangunan? Apalagi juragan sembako?

Suatu hari pas acara tujuh belasan, saya lihat kedua anaknya jualan es mambo isi kacang ijo di depan rumahnya. Lucu banget. Duduk berduaan di depan rumah nawarin es mambo ke orang-orang yang lewat. Satu potong es mambo dijual Rp 500,- murah sekali. Apakah bisa balik modal tuh?

Dan sejam kemudian saya lihat mereka ikut mamanya jualan es mambo keliling alun-alun. Mamanya sendiri yang S2 lulusan luar negeri itu yang teriak-teriak “es mambo, es mambo, aa mau es mambo?”  Begitu juga dengan papanya, gantian nemenin anaknya jualan. Itu tidak hanya satu kali dua kali. Tapi sering dilakukan ketika hari libur.

Saya jadi ingat apa yang dikatakan mentor saya beberapa tahun yang lalu. Saya juga jadi ingat beberapa cerita teman saya yang waktu kecilnya diajak jualan sama orang tuanya. Mengapa mereka masih jualan asongan sendiri, padahal kan sudah kaya?

Nah berikut beberapa faktor yang sempat saya gali dari mereka.

1. Melawan Gengsi atau Malu

Disadari atau tidak, makin banyak harta biasanya orang jadi makin gengsi atau malu. Gengsi melakukan pekerjaan kotor atau pekerjaan rendah. Apalagi kalau sudah biasa dilayani bawahan seperti raja kecil. Kita akan malu pegang sapu untuk bersih-bersih, turun langsung, apalagi berjualan langsung. Gengsi dong. Gua kan atasan.

Kalau kadarnya masih wajar, tidak masalah. Tapi kalau sudah bikin kita tidak bisa luwes dan tidak mau kerja keras, itu sudah berbahaya. Maka dari itu perlu melawan rasa gengsi atau malu seperti itu. Gengsi yang terlalu tinggi bisa membuat kita menjadi kurang waspada, tidak luwes dan tidak terlatih bekerja keras.

Kebayang dong ya kalau kita belum apa-apa sudah gengsi bekerja keras?

2. Melatih Insting

Salah satu faktor penting dalam berbisnis adalah insting atau naluri. Dalam banyak hal, naluri yang terlatih dan terbentuk puluhan tahun lamanya sangat membantu dalam mengambil keputusan dengan efektif. Terutama jika informasi yang kita perlukan sangat terbatas dan tidak berkualitas. Sehingga dalam situasi yang mendesak, minim informasi, dan serba terbatas, masih bisa mengambil keputusan yang tepat. Itulah yang biasanya membuat kita terlihat aneh dan tidak masuk akal di mata orang lain.

Naluri tersebut adalah anugerah dari Allah yang Maha Bijaksana. Perlu dilatih dan dipertajam terus menerus agar dapat membantu pikiran dalam mengambil keputusan. Seperti otot, jika terus dilatih maka akan makin besar dan kuat. Namun jika tidak dilatih akan mengendur dan mengecil dan menjadi lemah. Begitu pula dengan insting.

Sayangnya lingkungan dan sekolah seringkali membuat naluri tersebut makin lemah dan tidak terlatih. Oleh sebab itu kita sendiri yang harus melatihnya dengan banyak interaksi dengan orang lain dan mengamati situasi.

3. Mempelajari Perilaku

Produk yang bisa diterima pasar seringkali bukan produk yang canggih atau paling bagus fiturnya. Tapi produk yang cocok dengan perilaku konsumen. Konsumen itu adalah orang, manusia yang punya emosi, logika dan perilaku. Aspek perilaku inilah yang membedakan antara lingkungan Indonesia dengan Singapura atau Malaysia misalnya. Apalagi dengan Amerika?

Mengapa di sini hanya sedikit orang yang mempunyai rekening bank? Mengapa di sini sedikit sekali yang punya kartu kredit? Pelajarilah perilakunya. Mungkin ada logika mereka yang kita belum tahu.

Dari sini kita bisa memperoleh pandangan yang lain mengapa perilaku konsumen kita seperti itu. Pandangan ini membantu kita dalam membuat produk dan mengambil keputusan.

4. Mempelajari Pola Baru

Ada kalanya pengetahuan yang kita pelajari di kampus, di lembaga training, di sesi coaching sudah kadaluarsa dan tidak relevan lagi. Memang seperti itulah kondisi pasar, sangat dinamis dan berubah begitu cepat. Relevansi dari pengetahuan sangat penting di sini.

Maka dari itu untuk mendapatkan gambaran mengenai apa yang sedang terjadi dan mendapatkan pola yang baru, kita perlu turun langsung. Melihat langsung. Melakukan langsung. Ada aspek-aspek yang hanya bisa kita lihat kalau kita turun langsung, kerjakan langsung.

Mengapa banyak orang pakai Blackberry? Lalu mengapa mereka ganti ke IOS atau Android? Tapi mengapa masih banyak yang menggunakan feature phone 2G? Jangan terburu nafsu melihat angka penjualan yang menurun atau meningkat.

Kesimpulan

Disadari atau tidak, begitulah cara mereka mengedukasi diri sendiri. Semangat untuk kerja keras dan terus mempelajari hal-hal baru adalah kekayaan yang luar biasa dalam diri mereka. Tidak puas dengan pendidikan dan ilmu dari sekolah. Itu yang membuat mereka bukan hanya SMART tapi juga STREET SMART. Kata mentor saya mah, “Jangan asal pinter, tapi harus pinter-pinter”

Mereka saja yang sudah kaya begitu, ngga gengsi turun langsung dan kerja keras. Mengapa kita-kita yang masih belum apa-apa sudah gengsi?

Semoga bermanfaat dan monggo subscribe newsletternya 😀